Follow Us @avonturnetwork

Sunday, January 19, 2020

Kind of Self Journey

5:41 AM 0 Comments
Well, good day everybodeh.. 

Bunda Cekatan ini adalah kelas belajar yang sudah lama saya tunggu-tunggu. Bukan hanya karena saya mau belajar, tapi saya memang butuh. Saya senang belajar, tapi belajar random yang gak terarah itu seringkali.semangatnya hanya menyala di awal dan gak sampai tuntas. Belum bisa me-manage diri sendiri untuk belajar aecara holistik. Tampaknya pendidikan yang saya enyam sebelumnya belum berhasil menumbuhkan pemikiran holistik pada diri aaya *tutupmuka* *masukkolong* 
Sungguh, bukan hal yang patut dibanggakan. 

Selama kelas ini saya senang sekali, karena saya jadi punya waktu me time paling gak sehari dalam seminggu. Saya pakai waktunya untuk mengerjakan tugas buncek, dan baca buku walau sedikit. Dan suami support sekali, karena jelas apa yang saya kerjakan. Saya biasanya ngangrem di perpustakaan daerah. Karena gak tau mau main ke mana lagi wkwkwk, mau ke taman malas karena terlalu terang. Anak rumahan banget yang senang duduk dibalik gorden. 

Kalau ke taman sih maunya tiduran aja di bawah pohon sambil liat langit. Emang tim rebahan sih wkwkwk 

Dan bagi saya me time itu walaupun mengerjakan tugas, saya akan sebut main. Emang seseneng itu main. Dan semua hal juga saya labeli dengan main, main masak-masakan jadi soto betawi, main lipet baju, main cuci baju.. tapi sebelum mulai bunda cekatan saya gak bisa mengidentikkan diri saya dengan main selama sekian waktu. Muka saya nyureng terus. 😂😂

Memang sudah waktunya belajar lagi. Dan saya percaya ini memang waktu yang tepat, karena waktu 
Tuhan adalah yang terbaik. 

#bundacekatan
#kelastelurtelur
#institutibuprofesional
#aliranrasatahaptelurtelur

Monday, January 13, 2020

Start to Walk

12:52 AM 1 Comments
Akhirnya bisa update via laptop.

Mind map kali ini menuntut saya untuk lebih detail menuliskan apa yang akan saya kerjakan selama lima bulan ke depan. Awalnya saya kira lima ilmu yang ingin saya pelajari, nyatanya, tiga ilmu ini saya kira menjadi ilmu-ilmu yang paling penting untuk dimulai.

Saya menamai project kali ini dengan Shine Bright Mother. Memang terinspirasi dari Kaka Riri kok. Tapi ini menjadi curahan hati saya sendiri. Sampai saat ini saya masih merasa menjadi ibu membatasi saya untuk melakukan banyak hal. Ini penyakit, wkwkwkwk karena sejatinya semua dimulai dari dalam pikiran. Maka belajar di bunda Cekatan kali ini menuntut saya untuk mengubah pola pikir saya sendiri. Sulit? Memang dan sulit banget malah. Maka saya mulai dengan tujuan agar saya menyadari bahwa cahaya kita tak akan padam dengan menjadi ibu, bahkan bisa bersinar jauh lebih terang lagi.

Sebenarnya semua sudah tertuang dalam Mind Map. Jadi tanpa perlu berbasa-basi, here we go!


#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#materi4
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional
#kelastelur

Monday, January 6, 2020

Telur Jingga - Setting your Goals

12:01 AM 0 Comments
Jadi satu hal yang membuat saya terkagum-kagum dengan kurikulum Bunda Cekatan adalah karena ini benar-benar menjadi jawaban atas kegalauan-kegalauan yang sedang saya alami. Saya kebingungan dengan hidup saya sendiri, saya merasa tidak betah mengerjakan kegiatan sehari-hari, saya sering marah, saya sering murung: Saya tidak bahagia.

Pertanda untuk kondisi emosi saya sebenarnya sudah saya temukan sejak beberapa bulan yang lalu, dan saya sendiri sudah mulai mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, tapi nyatanya bagaimana menjalankannya menjadi permasalahan tersendiri bagi saya. Lalu saya terharu karena di kelas Bunda Cekatan rasanya saya lagi dituntun untuk membebaskan diri dari permasalahan yang menghantui selama ini.

Jadi, setelah mendengarkan materi dari Ibu Septi, saya paham bahwa tujuan utama dari kelas Bunda Cekatan dalam bahasa saya adalah pertama menjadi ibu yang bahagia. Karena hanya dalam kondisi bahagia kita bisa menularkan kebahagiaan kepada orang lain, yang tidak lain adalah suami dan anak kita, selain itu ketika kita bahagia dengan sendirinya kita akan jarang mengeluh. Kata Ibu Septi, yang keluar dari mulut kita hanya syukur dan sabar. We focused on what we have, not what we lose. Dan saya masih fokus pada apa yang saya inginkan dan gak bisa saya lakukan karena selalu kekurangan waktu >___< 
Manajemen Waktu
Jadi memang manajemen waktu menjadi keterampilan pertama yang harus saya kuasai, agar saya bisa leluasa memasukkan aktivitas-aktivitas lain dalam jadwal harian saya. Terutama aktivitas yang membuat saya bahagia yang selama ini tidak dapat saya kerjakan. Ini harus dan wajib. Karena kalau manajemen waktu belum tuntas, saya akan kembali bergulat dengan permasalahan yang sama lagi. Padahal keledai aja gak jatuh di lubang yang sama, lalu saya sudah berkali-kali jatuh, eh bukan berkali-kali jatuh, tapi sampai berkubang di lubang itu. wkwkwkw
Tujuannya adalah biar saya bisa bebas bermain musik sesuka hati, saya harus membuat pembagian waktu yang tepat agar semua bahagia. 

Manajemen Emosi
Lalu keterampilan kedua yang saya tuliskan di telur merah adalah manajemen emosi. Ini sepertinya dampak dari ketidakbahagiaan saya. Merembet ke mana-mana. Ibu yang tidak bahagia memang tidak bisa menularkan kebahagiaan kepada keluarganya. Pengelolaan emosi ini memang krusial, karena ya dengan cita-cita untuk kembali ke kampus dalam waktu dekat, emosi saya sebisa mungkin lebih stabil dibandingkan saat ini. *sambilkomat-kamitbacadoa *ingatmasaemaknyatantrum

Food Prep
Mau nyombong udah belajar dari jaman MPASI, tapi kok ya anak sendiri berbulan-bulan gak naik berat badan. Saya malas masak karena malas preparasinya. Malas motong-motong sayur. Terus ada solusi sayur yang udah dipotong-potong, saya gak cocok sama bumbunya (banyak maunya nih emak satu *Haadezig*)
Well, maunya sih beli yang udah dipotong-potong tapi sayurnya aja gak sama bumbu. Jadi ya demi kebahagiaan yang lebih hakiki, saya berencana membuat food prep berdasarkan sharing dari emak-emak panutan di linimasa, lalu dipraktikkan sesuai dengan yang saya bisa. Udah beli kotak-kotaknya kalau gak ada ilmunya juga malah nganggur semua, numpuk di lemari -___-

Manajemen Keuangan 
Karena memang sekarang saya harus meningkatkan kapasitas diri saya gak sekadar menjadi kasir. Tapi harus menjadi manajer keuangan.

Menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak
Jadi memang saya butuh banyak ilmu untuk keterampilan menjadi guru/ fasilitator bagi anak saya ini. Ini sebenarnya salah satu kunci kebahagiaan saya, tapi gak pernah bisa saya kerjakan karena saya kehabisan waktu. Jadi ya, kuncinya memang perbaiki manajemen waktu saya lebih dulu.

Ilmu-ilmu yang saya perlukan 
1. Ilmu mengelola waktu 
Turunannya: food prep agar memasak lebih cepat, seni berbenah rumah (bisa konmari atau metode lainnya), 
2. Emotional release, emotional healing dan pengelolaan emosi 
3. Ilmu gizi, dan ilmu penyimpanan bahan makanan 
4. Financial planning jangka pendek, menengah dan jangka panjang, termasuk juga ilmu tentang ragam investasi dan risikonya. 
5. Childhood education ini turunannya banyak sekali :)) 

Sumber ilmu
1. Buku atau artikel baik daring maupun luring. 
Saya biasa browsing artikel-artikel entah itu di platform pencarian ataupun di koran-koran dan majalah-majalah lokal maupun internasional. Jurnal-jurnal juga bisa kalau kita butuh tulisan ilmiah, sekarang bahkan banyak jurnal kampus daring <3

2. Seminar dan workshop 

3. Video dari youtube ataupun podcast-podcast di berbagai platform audio

4. Kuliah whatsapp 

5. Diskusi dan sharing dengan para pakar baik itu daring maupun luring. 

Cara belajar yang gue banget: 
Menulis. 
Kata pak Hernowo, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Dan karena saya percaya ini, saya selalu membuat catatan tentang apa yang saya dengar dan apa saya baca. Agar ilmu tersebut dapat saya internalisasi dan menjadi bagian dari diri saya. 


#janganlupabahagia
#jurnalminggu3
#materi3
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional
#kelastelur

Monday, December 23, 2019

Meta Kognisi - Jurnal 2 - Kelas Telur

5:14 AM 0 Comments
Belajar caranya belajar adalah inti dari materi kedua yang disampaikan. Caranya bagaimana?
Setelah sebelumnya kita memetakan kekuatan kita: yaitu kegiatan-kegiatan mana yang kita sukai dan kita bisa, yang mana kegiatan ini akan memberikan kebahagiaan kepada kita atau kegiatan yang sebenarnya tidak perlu kita lakukan karena menurunkan indeks kebahagiaan dan saya sendiri sudah menuliskan lima kegiatan yang saya bisa dan membuat saya bahagia.
Maka sekarang, kita memetakan skill apa saja yang kita perlukan untuk mengoptimalkan kebahagiaan kita dalam menjalankan aktivitas-aktivitas tersebut.
Sebelumnya saya menuliskan lima hal yang saya bisa dan suka, yaitu: 
  1.  Bermain dengan anak
  2. Belajar hal baru 
  3. Berkomunitas (bertemu dengan orang dan gagasan baru)
  4. DIY Natural bodycare & Skincare 
  5. Belajar pendidikan anak
Ada dua item belajar yang saya masukkan, sementara yang ada hal lain yang saya sukai tetapi tidak masuk dalam telur hijau. Maka, di jurnal kali ini saya merevisi telur hijau saya agar saya sendiri lebih maksimal dalam belajar skill atau keterampilan pendukung agar kebahagiaan saya optimal.

Saya meniadakan belajar hal baru dan belajar pendidikan anak. Semuanya sudah termaktub dalam bermain dengan anak. Bermain dengan anak meniscayakan saya untuk senantiasa mempelajari hal-hal pendukung agar kegiatan bermain tetap membahagiakan bagi saya. Di antaranya adalah belajar tentang pendidikan anak: berbagai metode belajar, berbagai permainan anak, cara mendongeng, DIY mainan anak, bagaimana caranya bermain karakter dan lain sebagainya. Sementara belajar hal baru merupakan hal abstrak yang saya tuliskan karena memang sejatinya saya senang belajar. Saya menggantinya dengan bermain dan mendengarkan musik, walaupun kemampuan saya bermain musik masih sangat baru (saya baru belajar bermain alat musik beberapa bulan ini), tetapi ini membuat saya rileks dan bahagia. Memang tujuan awalnya ini menjadi katarsis bagi saya sendiri yang sedang belajar mengelola emosi.



Di jurnal kali ini, lima hal yang saya tuliskan sebagai keterampilan yang perlu saya pelajari adalah:
  1. Perencanaan dan pengelolaan finansial.
    Ini menjadi krusial bagi keluarga kami, karena saya senang bermain luar ruang dengan anak, maka walaupun saya senang memasak, saya tidak selalu bisa memasak (karena waktu dan kondisi yang tidak selalu memungkinkan), maka membeli makanan matang merupakan pilihan paling memungkinkan. Tantangan untuk pilihan ini adalah uang yang dikeluarkan lebih banyak dibandingkan kita memasak sendiri. Maka, perencanaan dan pengelolaan keuangan yang matang menjadi kunci agar cash flow keluarga kami tidak terganggu.
    Ini merupakan ilmu baru bagi saya, walaupun saya sudah mempraktikkan upaya-upaya pengelolaan keuangan, tetapi saya masih merasa belum optimal. Mungkin suatu saat saya perlu ikut pelatihan financial planning agar lebih terstruktur lagi.
  2. Time Management.
    Saya seringkali lupa waktu ketika bermain dengan anak, karenanya saya harus membatasi diri saya sendiri agar waktu saya dapat digunakan untuk mengerjakan hal lain, sekalipun itu bukan hal yang saya suka, tetapi memang perlu untuk dikerjakan.
  3. Food Prep + Ilmu gizi
    Saya senang bermain masak-masakan (karena bagi saya memasak adalah sebuah aktivitas yang wow, maka bermain masak-masakan menjadi pilihan. Kadang masakan saya tidak selalu berhasil, jadi ya bermain saja), tetapi waktu saya untuk memasak tidak selalu tersedia. Seringkali saya harus memilih, memasak atau bermain dengan anak (karena manajemen waktu yang buruk), maka saya akan mulai belajar menerapkan food prep mingguan dan ilmu gizi, agar meskipun saya siapkan tiap minggu, tetapi tetap memenuhi kebutuhan gizi anak. Sehingga, harapan saya ke depannya saya tidak perlu lagi memilih untuk bermain dengan anak atau memasak.
  4. Berbagai ilmu pendidikan dan kemampuan mendongeng
    Ini seharusnya mendukung kesenangan saya bermain dengan anak. Seringkali saya bosan bermain dengan anak karena kami bermain itu-itu saja. Anak dengan imajinasinya, dan saya terbentur pada imajinasi yang sudah mulai terbatas dengan dunia nyata yang sudah banyak saya lihat. wkwkwk
    Maka, saya harus lebih aktif dan kreatif dalam menentukan permainan yang akan saya lakukan dengan anak. Dan permainan itu harus mendukung tumbuh kembangnya agar ini menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus mengenyangkan budi. 
  5. Manajemen Emosi
    Ini adalah tantangan yang sedang saya alami. Karena ketika saya menginginkan sesuatu terkadang saya terlalu menggebu-gebu sehingga mengesampingkan perasaan dan kebutuhan tubuh saya sendiri. Akhirnya saya penat. Saya jengah dengan banyak hal. Lalu saya merasa seluruh pekerjaan yang saya lakukan tidak memberikan feedback yang baik kepada kehidupan saya. Dan ini menjadi siklus, akhirnya kesehatan jiwa saya terganggu. Jadi manajemen emosi ini menjadi keterampilan krusial yang perlu saya pelajari agar saya tidak "tersesat" dalam kehidupan saya sehari-hari.



#janganlupabahagia
#jurnalminggu2
#materi2
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional
#kelastelur

Tuesday, December 17, 2019

Siapakah Aku? | Kelas Telur-Telur | Bunda Cekatan

7:57 AM 0 Comments
Pertama kali membaca infografis Kelas Telur-telur Bunda Cekatan, pikiran saya langsung terfokus pada bagaimana kita sebaiknya mendefinisikan diri kita sendiri. Saya sendiri selalu merasa kesulitan, karena bagi saya predikat-predikat yang melekat pada kita tidak bisa mendefinisikan diri kita secara utuh. Kita memiliki banyak identitas, sebagai perempuan, sebagai ibu, sebagai anak, sebagai murid, mungkin sebagai guru, mungkin  sebagai pekerja atau pemilik usaha, atau sebagai penemu di bidang tertentu dan lain sebagainya. Tetapi semua identitas itu belum menunjukkan diri saya yang otentik. Mungkin karena saya belum menemukan misi hidup saya yang spesifik.

Mengikuti kelas Bunda Cekatan ini seperti jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan pada diri sendiri akhir-akhir ini. Saya sedang mengalami kegalauan yang belum berhasil saya uraikan. Termasuk mempertanyakan tentang siapa saya sebenarnya ini. Tapi membaca tugasnya untuk mencari aktivitas yang benar-benar membuat kita bahagia, membantu saya untuk mulai mengurai benang kusut dalam kepala saya. Here we go!

Kali ini saya akan mengawali jurnal dengan menuliskan empat kuadran aktivitas yang saya bisa dan saya suka.

  1. Bisa dan Tidak Suka
    • Berurusan dengan pakaian: mencuci pakaian dan melipat. 
    • Merapikan rumah 
    • Menyusun menu makanan 
    • Mencabut rumput/ gulma di halaman depan
  2. Bisa dan Suka 
    • Bermain dengan anak 
    • Belajar tentang pendidikan anak 
    • Belajar hal baru
    • Berkomunitas: bertemu dengan orang-orang dan gagasan-gagasan baru 
    • Menganalisis permasalahan--mencari solusi
    • Mendengarkan musik
    • Membuat kerajinan: seperti membuat macrame gelang/ kalung, membuat tasbeh, merajut (tapi sekadar bisa), kristik, dll.
    • Skincare/ bodycare natural
    • Main masak-masakan (wkwkwk, karena memasak terlalu serius dan belum tentu berhasil)
  3. Tidak Bisa dan Tidak Suka

  4. Tidak Bisa dan Suka
    • Menjahit pakaian
    • Bermain alat musik 
    • Bercocok Tanam 
    • Membuat sabun sendiri 
    • Membuat kompos 
    • Art of communication 
    • Mendongeng
    • Menulis yang layak dibaca
      Dari sekian banyak aktivitas yang membuat saya bahagia, saya akan menguraikan lima sebagaimana tertera dalam telur hijau: 
    1. Bermain dengan anak
      Ini menjadi hal pertama yang saya bisa dan membuat saya bahagia. Kebanyakan aktivitas bersama anak saya lakukan luar ruang, karena memang saya tidak senang berada di ruang tertutup (baca: dalam rumah). Maka aktivitas rumahan semacam membuat prakarya seringkali tidak menjadi pilihan bagi saya dan anak. Bermain di luar memungkinkan anak bertemu dengan berbagai macam hal, jika bermain di alam dia akan bertemu dengan ranting, daun, cacing, ular, belalang, siput, ayam, kucing, anjing, dan berbagai makhluk lainnya. Bermain di taman dia akan bertemu dengan berbagai macam orang/ anak dengan karakternya yang berbeda-beda. Akan tetapi, meskipun membahagiakan, aktivitas ini juga menguras tenaga dan emosi, seringkali pulang dari beraktivitas luar ruang, saya tidak punya energi tersisa untuk mengerjakan hal lain.
    2. Belajar hal baru
      Saya senang belajar, bahkan ketika saya membawa motor ke bengkel pun saya senang memerhatikan apa yang dilakukan montir sambil saya berusaha memperlajari sesuatu. Tapi belajar yang saya maknai sekarang, terfokus pada belajar terkait dengan tumbuh kembang anak dan pendidikan anak, selain itu juga terkait dengan komunikasi dalam keluarga dan relasi suami-istri dalam keluarga. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya karena memang merupakan hal-hal yang saya temui sehari-hari. Bagaimana cara menyampaikan pesan kepada pasangan yang tidak menyinggung tetapi tetap bisa dipahami dengan baik, atau bagaimana berbicara pada anak agar otoritas kita sebagai orang tua tetap tegak, tetapi tanpa melukai perasaannya. Dan berbagai hal lainnya.
      Belajar hal baru menjadi fokus saya juga karena setiap hari rasanya semakin dipikirkan semakin banyak yang tidak saya ketahui.
    3. Berkomunitas: bertemu dengan orang dan gagasan baru
      Sebagaimana belajar hal baru, menemukan ide-ide baru seperti memberi makan jiwa saya. Bagaimana orang-orang dengan refleksinya menemukan jalan hidupnya sendiri, menemukan panggilan jiwanya dan lain sebagainya. Meskipun saya introvert, saya senang bertemu dengan banyak orang, ini memberikan energi lain yang juga saya butuhkan. Walaupun intensitasnya tidak bisa terlalu sering karena ini melelahkan bagi saya. Tapi bertemu dengan orang-orang lain selalu membuat saya bersemangat.
    4. Belajar tentang pendidikan anak
      Ini menjadi fokus saya saat ini. Sebagaimana telah saya tuliskan dalam belajar hal baru, ini menjadi hal membahagiakan tersendiri. Karena menemukan metode pendidikan yang cocok seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Apalagi di era digital yang arus informasi seakan tak pernah mati. Semakin dibaca semakin merasa perlu menggali lebih dalam untuk benar-benar menentukan kita akan cocok atau tidak. Semoga saya bisa fokus di sini dan menemukan yang terbaik untuk kami.
    5. Skin care/ body care natural
      Ini merupakan hal baru yang membuat saya bahagia. Sebelumnya pemahaman saya tentang skincare adalah 10 step korean skincare. Tetapi setelah tergabung dalam sebuah komunitas edukasi skincare natural, saya merasa saya selama ini salah paham. Akhirnya saya mulai belajar lebih aware terhadap kesehatan kulit dan tubuh secara keseluruhan. Bahwa kita adalah apa yang kita makan (termasuk skincare merupakan makanan kulit kita), sehingga lebih berhati-hati terhadap apa saja yang kita konsumsi dan mempelajari dampak positif maupun negatif jika kita mengonsumsi bahan/ makanan tersebut.


      Sampai saat ini saya masih memikirkan hal-hal yang saya tidak bisa dan tidak suka. Nanti akan saya tambahkan begitu saya menemukannya. Tapi saat ini saya masih memikirkannya dan belum ketemu. Saya merasa kesulitan mencarinya. :)
#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Monday, February 12, 2018

Siapkah kami menjadi Keluarga Multimedia?

12:56 PM 0 Comments

Walaupun saya dan suami anak aplikasi dan website, tapi kami masih sangat membatasi eksposure gadget terhadap anak lanang kami (21 bulan). Alasannya sih sederhana, biar dia semangat eksplor dunia nyata dulu. Dunia nyata yang saya maksud adalah meneksplor alam yang telah ada di sekitarnya, melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, mengenal orang lain, dan lain-lain. Dan menunda kebutuhannya akan gadget karena dia memang belum membutuhkannya. Yang dibutuhkannya sekarang masih perhatian penuh dan kebersamaan dengan kedua orang tuanya. Ini yang saya pahami. 

Saya mau menegaskan sedikit tentang kehidupan dunia maya dan dunia nyata. Seluruh dunia ini maya, bukan? Karena yang Nyata hanya Tuhan. Maya ini dikenal dalam filosofi Hindu sebagai tidak nyata memang, dan segala sesuatu yang bukan Tuhan itu bersifat maya. Nah, saya dan suami berupaya meminimalisir kemelekatan kami terhadap gadget dan mendekat pada Realitas. Karena kehidupan ini maya, kalau kita terus menerus hidup di dunia maya, kapan kita akan mengenal Kenyataan? Mengenal Realitas Sejati? 

Jadi kalau menjawab judul di atas gimana dong? Kalau saya sih ingin menegaskan definisi keluarga multimedia dulu. Kami sih sampai sekarang memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin agar dapat mempermudah urusan-urusan kami. Misalnya, daripada antre di stasiun untuk pesan tiket, tinggal pesan online kemudian pergi ke stasiun ketika akan berangkat saja. Atau menggunakan aplikasi Go-Jek daripada capek bolak-balik mengambil barang yang tertinggal. Dsb. Karena tidak dipungkiri lagi teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, pilihannya kan manfaatkan atau ketinggalan. 

Saya sendiri sampai sekarang udah merasa sebagai keluarga multimedia, dalam arti yang tadi itu, memanfaatkan teknologi semaksimal untuk mempermudah urusan kami. Tapi kami tidak ingin terlalu melekat terhadap teknologi tersebut. Misal aplikasi gangguan dan tidak bisa digunakan, ya pakai cara lain yang mungkin, gak perlu hanya mengandalkan itu dan tidak mencoba cara lain. Apalagi kalau sampai marah-marah komplain di aplikasinya *tutupmuka*. Saya sendiri pernah mengalami kejadian serupa, waktu itu whatsapp yang gangguan, gak bisa diupdate dari aplikasi bawaan HP Xi**mi. Tapi akhirnya berhasil diupdate via situs Whatsapp. Saya sempat keki sepanjang hari (gak bisa terima kenyataan). Tapi akhirnya sisa hari itu saya berhasil menerima kenyataan. Dan berdamai dengan hp yang gak bisa digunakan whatsapp. Ketika saya sudah tenang, malah baru berhasil menemukan cara updatenya. 

Jadi se-Multimedia apakah keluarga kami? Jawabannya adalah cukup. Cukup memanfaatkan teknologi dan tahu kapan waktunya untuk menjaga jarak dari teknologi. Semoga kami dapat konsisten menerapkannya di keluarga kami. 

Tabik, 
Fathimah