Monday, January 20, 2020
Sunday, January 19, 2020
Kind of Self Journey
fa
5:41 AM
0 Comments
Well, good day everybodeh..
Bunda Cekatan ini adalah kelas belajar yang sudah lama saya tunggu-tunggu. Bukan hanya karena saya mau belajar, tapi saya memang butuh. Saya senang belajar, tapi belajar random yang gak terarah itu seringkali.semangatnya hanya menyala di awal dan gak sampai tuntas. Belum bisa me-manage diri sendiri untuk belajar aecara holistik. Tampaknya pendidikan yang saya enyam sebelumnya belum berhasil menumbuhkan pemikiran holistik pada diri aaya *tutupmuka* *masukkolong*
Sungguh, bukan hal yang patut dibanggakan.
Selama kelas ini saya senang sekali, karena saya jadi punya waktu me time paling gak sehari dalam seminggu. Saya pakai waktunya untuk mengerjakan tugas buncek, dan baca buku walau sedikit. Dan suami support sekali, karena jelas apa yang saya kerjakan. Saya biasanya ngangrem di perpustakaan daerah. Karena gak tau mau main ke mana lagi wkwkwk, mau ke taman malas karena terlalu terang. Anak rumahan banget yang senang duduk dibalik gorden.
Kalau ke taman sih maunya tiduran aja di bawah pohon sambil liat langit. Emang tim rebahan sih wkwkwk
Dan bagi saya me time itu walaupun mengerjakan tugas, saya akan sebut main. Emang seseneng itu main. Dan semua hal juga saya labeli dengan main, main masak-masakan jadi soto betawi, main lipet baju, main cuci baju.. tapi sebelum mulai bunda cekatan saya gak bisa mengidentikkan diri saya dengan main selama sekian waktu. Muka saya nyureng terus. 😂😂
Memang sudah waktunya belajar lagi. Dan saya percaya ini memang waktu yang tepat, karena waktu
Tuhan adalah yang terbaik.
#bundacekatan
#kelastelurtelur
#institutibuprofesional
#aliranrasatahaptelurtelur
Monday, January 13, 2020
Start to Walk
fa
12:52 AM
1 Comments
Akhirnya bisa update via laptop.
Mind map kali ini menuntut saya untuk lebih detail menuliskan apa yang akan saya kerjakan selama lima bulan ke depan. Awalnya saya kira lima ilmu yang ingin saya pelajari, nyatanya, tiga ilmu ini saya kira menjadi ilmu-ilmu yang paling penting untuk dimulai.
Saya menamai project kali ini dengan Shine Bright Mother. Memang terinspirasi dari Kaka Riri kok. Tapi ini menjadi curahan hati saya sendiri. Sampai saat ini saya masih merasa menjadi ibu membatasi saya untuk melakukan banyak hal. Ini penyakit, wkwkwkwk karena sejatinya semua dimulai dari dalam pikiran. Maka belajar di bunda Cekatan kali ini menuntut saya untuk mengubah pola pikir saya sendiri. Sulit? Memang dan sulit banget malah. Maka saya mulai dengan tujuan agar saya menyadari bahwa cahaya kita tak akan padam dengan menjadi ibu, bahkan bisa bersinar jauh lebih terang lagi.
Sebenarnya semua sudah tertuang dalam Mind Map. Jadi tanpa perlu berbasa-basi, here we go!
Mind map kali ini menuntut saya untuk lebih detail menuliskan apa yang akan saya kerjakan selama lima bulan ke depan. Awalnya saya kira lima ilmu yang ingin saya pelajari, nyatanya, tiga ilmu ini saya kira menjadi ilmu-ilmu yang paling penting untuk dimulai.
Saya menamai project kali ini dengan Shine Bright Mother. Memang terinspirasi dari Kaka Riri kok. Tapi ini menjadi curahan hati saya sendiri. Sampai saat ini saya masih merasa menjadi ibu membatasi saya untuk melakukan banyak hal. Ini penyakit, wkwkwkwk karena sejatinya semua dimulai dari dalam pikiran. Maka belajar di bunda Cekatan kali ini menuntut saya untuk mengubah pola pikir saya sendiri. Sulit? Memang dan sulit banget malah. Maka saya mulai dengan tujuan agar saya menyadari bahwa cahaya kita tak akan padam dengan menjadi ibu, bahkan bisa bersinar jauh lebih terang lagi.
Sebenarnya semua sudah tertuang dalam Mind Map. Jadi tanpa perlu berbasa-basi, here we go!
#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#materi4
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional
#kelastelur
Monday, January 6, 2020
Jadi satu hal yang membuat saya terkagum-kagum dengan kurikulum Bunda Cekatan adalah karena ini benar-benar menjadi jawaban atas kegalauan-kegalauan yang sedang saya alami. Saya kebingungan dengan hidup saya sendiri, saya merasa tidak betah mengerjakan kegiatan sehari-hari, saya sering marah, saya sering murung: Saya tidak bahagia.
Pertanda untuk kondisi emosi saya sebenarnya sudah saya temukan sejak beberapa bulan yang lalu, dan saya sendiri sudah mulai mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, tapi nyatanya bagaimana menjalankannya menjadi permasalahan tersendiri bagi saya. Lalu saya terharu karena di kelas Bunda Cekatan rasanya saya lagi dituntun untuk membebaskan diri dari permasalahan yang menghantui selama ini.
Jadi, setelah mendengarkan materi dari Ibu Septi, saya paham bahwa tujuan utama dari kelas Bunda Cekatan dalam bahasa saya adalah pertama menjadi ibu yang bahagia. Karena hanya dalam kondisi bahagia kita bisa menularkan kebahagiaan kepada orang lain, yang tidak lain adalah suami dan anak kita, selain itu ketika kita bahagia dengan sendirinya kita akan jarang mengeluh. Kata Ibu Septi, yang keluar dari mulut kita hanya syukur dan sabar. We focused on what we have, not what we lose. Dan saya masih fokus pada apa yang saya inginkan dan gak bisa saya lakukan karena selalu kekurangan waktu >___<
Manajemen Waktu
Jadi memang manajemen waktu menjadi keterampilan pertama yang harus saya kuasai, agar saya bisa leluasa memasukkan aktivitas-aktivitas lain dalam jadwal harian saya. Terutama aktivitas yang membuat saya bahagia yang selama ini tidak dapat saya kerjakan. Ini harus dan wajib. Karena kalau manajemen waktu belum tuntas, saya akan kembali bergulat dengan permasalahan yang sama lagi. Padahal keledai aja gak jatuh di lubang yang sama, lalu saya sudah berkali-kali jatuh, eh bukan berkali-kali jatuh, tapi sampai berkubang di lubang itu. wkwkwkw
Tujuannya adalah biar saya bisa bebas bermain musik sesuka hati, saya harus membuat pembagian waktu yang tepat agar semua bahagia.
Manajemen Emosi
Lalu keterampilan kedua yang saya tuliskan di telur merah adalah manajemen emosi. Ini sepertinya dampak dari ketidakbahagiaan saya. Merembet ke mana-mana. Ibu yang tidak bahagia memang tidak bisa menularkan kebahagiaan kepada keluarganya. Pengelolaan emosi ini memang krusial, karena ya dengan cita-cita untuk kembali ke kampus dalam waktu dekat, emosi saya sebisa mungkin lebih stabil dibandingkan saat ini. *sambilkomat-kamitbacadoa *ingatmasaemaknyatantrum
Food Prep
Pertanda untuk kondisi emosi saya sebenarnya sudah saya temukan sejak beberapa bulan yang lalu, dan saya sendiri sudah mulai mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, tapi nyatanya bagaimana menjalankannya menjadi permasalahan tersendiri bagi saya. Lalu saya terharu karena di kelas Bunda Cekatan rasanya saya lagi dituntun untuk membebaskan diri dari permasalahan yang menghantui selama ini.
Jadi, setelah mendengarkan materi dari Ibu Septi, saya paham bahwa tujuan utama dari kelas Bunda Cekatan dalam bahasa saya adalah pertama menjadi ibu yang bahagia. Karena hanya dalam kondisi bahagia kita bisa menularkan kebahagiaan kepada orang lain, yang tidak lain adalah suami dan anak kita, selain itu ketika kita bahagia dengan sendirinya kita akan jarang mengeluh. Kata Ibu Septi, yang keluar dari mulut kita hanya syukur dan sabar. We focused on what we have, not what we lose. Dan saya masih fokus pada apa yang saya inginkan dan gak bisa saya lakukan karena selalu kekurangan waktu >___<
Manajemen Waktu
Jadi memang manajemen waktu menjadi keterampilan pertama yang harus saya kuasai, agar saya bisa leluasa memasukkan aktivitas-aktivitas lain dalam jadwal harian saya. Terutama aktivitas yang membuat saya bahagia yang selama ini tidak dapat saya kerjakan. Ini harus dan wajib. Karena kalau manajemen waktu belum tuntas, saya akan kembali bergulat dengan permasalahan yang sama lagi. Padahal keledai aja gak jatuh di lubang yang sama, lalu saya sudah berkali-kali jatuh, eh bukan berkali-kali jatuh, tapi sampai berkubang di lubang itu. wkwkwkw
Tujuannya adalah biar saya bisa bebas bermain musik sesuka hati, saya harus membuat pembagian waktu yang tepat agar semua bahagia.
Manajemen Emosi
Lalu keterampilan kedua yang saya tuliskan di telur merah adalah manajemen emosi. Ini sepertinya dampak dari ketidakbahagiaan saya. Merembet ke mana-mana. Ibu yang tidak bahagia memang tidak bisa menularkan kebahagiaan kepada keluarganya. Pengelolaan emosi ini memang krusial, karena ya dengan cita-cita untuk kembali ke kampus dalam waktu dekat, emosi saya sebisa mungkin lebih stabil dibandingkan saat ini. *sambilkomat-kamitbacadoa *ingatmasaemaknyatantrum
Food Prep
Mau nyombong udah belajar dari jaman MPASI, tapi kok ya anak sendiri berbulan-bulan gak naik berat badan. Saya malas masak karena malas preparasinya. Malas motong-motong sayur. Terus ada solusi sayur yang udah dipotong-potong, saya gak cocok sama bumbunya (banyak maunya nih emak satu *Haadezig*)
Well, maunya sih beli yang udah dipotong-potong tapi sayurnya aja gak sama bumbu. Jadi ya demi kebahagiaan yang lebih hakiki, saya berencana membuat food prep berdasarkan sharing dari emak-emak panutan di linimasa, lalu dipraktikkan sesuai dengan yang saya bisa. Udah beli kotak-kotaknya kalau gak ada ilmunya juga malah nganggur semua, numpuk di lemari -___-
Manajemen Keuangan
Karena memang sekarang saya harus meningkatkan kapasitas diri saya gak sekadar menjadi kasir. Tapi harus menjadi manajer keuangan.
Menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak
Jadi memang saya butuh banyak ilmu untuk keterampilan menjadi guru/ fasilitator bagi anak saya ini. Ini sebenarnya salah satu kunci kebahagiaan saya, tapi gak pernah bisa saya kerjakan karena saya kehabisan waktu. Jadi ya, kuncinya memang perbaiki manajemen waktu saya lebih dulu.
Ilmu-ilmu yang saya perlukan
Well, maunya sih beli yang udah dipotong-potong tapi sayurnya aja gak sama bumbu. Jadi ya demi kebahagiaan yang lebih hakiki, saya berencana membuat food prep berdasarkan sharing dari emak-emak panutan di linimasa, lalu dipraktikkan sesuai dengan yang saya bisa. Udah beli kotak-kotaknya kalau gak ada ilmunya juga malah nganggur semua, numpuk di lemari -___-
Manajemen Keuangan
Karena memang sekarang saya harus meningkatkan kapasitas diri saya gak sekadar menjadi kasir. Tapi harus menjadi manajer keuangan.
Menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak
Jadi memang saya butuh banyak ilmu untuk keterampilan menjadi guru/ fasilitator bagi anak saya ini. Ini sebenarnya salah satu kunci kebahagiaan saya, tapi gak pernah bisa saya kerjakan karena saya kehabisan waktu. Jadi ya, kuncinya memang perbaiki manajemen waktu saya lebih dulu.
Ilmu-ilmu yang saya perlukan
1. Ilmu mengelola waktu
Turunannya: food prep agar memasak lebih cepat, seni berbenah rumah (bisa konmari atau metode lainnya),
2. Emotional release, emotional healing dan pengelolaan emosi
3. Ilmu gizi, dan ilmu penyimpanan bahan makanan
4. Financial planning jangka pendek, menengah dan jangka panjang, termasuk juga ilmu tentang ragam investasi dan risikonya.
5. Childhood education ini turunannya banyak sekali :))
Sumber ilmu
1. Buku atau artikel baik daring maupun luring.
Saya biasa browsing artikel-artikel entah itu di platform pencarian ataupun di koran-koran dan majalah-majalah lokal maupun internasional. Jurnal-jurnal juga bisa kalau kita butuh tulisan ilmiah, sekarang bahkan banyak jurnal kampus daring <3
2. Seminar dan workshop
3. Video dari youtube ataupun podcast-podcast di berbagai platform audio
4. Kuliah whatsapp
5. Diskusi dan sharing dengan para pakar baik itu daring maupun luring.
Cara belajar yang gue banget:
Menulis.
Kata pak Hernowo, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Dan karena saya percaya ini, saya selalu membuat catatan tentang apa yang saya dengar dan apa saya baca. Agar ilmu tersebut dapat saya internalisasi dan menjadi bagian dari diri saya.
#janganlupabahagia
#jurnalminggu3
#materi3
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional
#kelastelur