Walaupun saya dan suami anak aplikasi dan website, tapi kami masih sangat membatasi eksposure gadget terhadap anak lanang kami (21 bulan). Alasannya sih sederhana, biar dia semangat eksplor dunia nyata dulu. Dunia nyata yang saya maksud adalah meneksplor alam yang telah ada di sekitarnya, melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, mengenal orang lain, dan lain-lain. Dan menunda kebutuhannya akan gadget karena dia memang belum membutuhkannya. Yang dibutuhkannya sekarang masih perhatian penuh dan kebersamaan dengan kedua orang tuanya. Ini yang saya pahami.
Saya mau menegaskan sedikit tentang kehidupan dunia maya dan dunia nyata. Seluruh dunia ini maya, bukan? Karena yang Nyata hanya Tuhan. Maya ini dikenal dalam filosofi Hindu sebagai tidak nyata memang, dan segala sesuatu yang bukan Tuhan itu bersifat maya. Nah, saya dan suami berupaya meminimalisir kemelekatan kami terhadap gadget dan mendekat pada Realitas. Karena kehidupan ini maya, kalau kita terus menerus hidup di dunia maya, kapan kita akan mengenal Kenyataan? Mengenal Realitas Sejati?
Jadi kalau menjawab judul di atas gimana dong? Kalau saya sih ingin menegaskan definisi keluarga multimedia dulu. Kami sih sampai sekarang memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin agar dapat mempermudah urusan-urusan kami. Misalnya, daripada antre di stasiun untuk pesan tiket, tinggal pesan online kemudian pergi ke stasiun ketika akan berangkat saja. Atau menggunakan aplikasi Go-Jek daripada capek bolak-balik mengambil barang yang tertinggal. Dsb. Karena tidak dipungkiri lagi teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, pilihannya kan manfaatkan atau ketinggalan.
Saya sendiri sampai sekarang udah merasa sebagai keluarga multimedia, dalam arti yang tadi itu, memanfaatkan teknologi semaksimal untuk mempermudah urusan kami. Tapi kami tidak ingin terlalu melekat terhadap teknologi tersebut. Misal aplikasi gangguan dan tidak bisa digunakan, ya pakai cara lain yang mungkin, gak perlu hanya mengandalkan itu dan tidak mencoba cara lain. Apalagi kalau sampai marah-marah komplain di aplikasinya *tutupmuka*. Saya sendiri pernah mengalami kejadian serupa, waktu itu whatsapp yang gangguan, gak bisa diupdate dari aplikasi bawaan HP Xi**mi. Tapi akhirnya berhasil diupdate via situs Whatsapp. Saya sempat keki sepanjang hari (gak bisa terima kenyataan). Tapi akhirnya sisa hari itu saya berhasil menerima kenyataan. Dan berdamai dengan hp yang gak bisa digunakan whatsapp. Ketika saya sudah tenang, malah baru berhasil menemukan cara updatenya.
Jadi se-Multimedia apakah keluarga kami? Jawabannya adalah cukup. Cukup memanfaatkan teknologi dan tahu kapan waktunya untuk menjaga jarak dari teknologi. Semoga kami dapat konsisten menerapkannya di keluarga kami.
Tabik,
Fathimah
No comments:
Post a Comment