Wuah sudah level 12. Semoga bisa konsisten di level 12 ini untuk menulis review 12 website yang mendukung pendidikan keluarga saya.
Jadi pada dasarnya saya dan suami adalah pasangan milenial. Yang untuk sebagian kebingungan kami browsing untuk mencari jawabannya. Gak melulu googling, bisa pakai Bing, Yahoo dll. Ada banyak sih sebenarnya platform pencarian di dunia maya. Nanti tinggal cocok atau tidak dengan link yang masuk ke platform tersebut. Tapi, untuk hal-hal prinsip kami sudah membentuk filosofi keluarga kami sendiri, sehingga ketika browsing kami gak menelan info Mentah-mentah. Malah mostly sebagai bahan diskusi berdua di rumah. Anak Lanang belum diajak diskusi sih palingan dia ikut menyaksikan diskusi kami sembari dia masyuk dengan aktivitasnya sendiri. Geratakin meja bundanya bisa jadi #tutupmuka
Nah, makanya ketika ada tantangan ini, tadinya saya sok sekali. Hahaha ampun. Anaknya memang songong. 😁
Saya review satu aplikasi dari Google playstore yah. Nama aplikasinya Audiobuku. Ini aplikasi saya ketahui waktu diskusi di rumbel Menulis IIP Jogja. Saya browsing sih, gara-gara teman-teman rumbel Menulis sedang sharing tentang anaknya yang gaya belajarnya auditori. Waktu itu mengomentari pekerjaan saya sebagai transkriptor (yang memang berurusan dengan audio).
"Mba, kalau transkrip itu apakah saya bisa bikin audiobook juga?" tanya seorang teman yang kebetulan anaknya yang lahir prematur tidak bisa melihat karena ROP. Saya sebelumnya pernah beberapa kalo dengerin audiobook dari novel-novel klasik berbahasa Inggris, tadinya saya pikir sebagai alternatif untuk orang-orang yang gak mendapatkan Hard copy-nya. Karena sudah tidak anak cetak. Ternyata ini metode belajar untuk anak-anak atau orang-orang dengan keterbatasan penglihatan. Jadi saya browsing.
Dari hasil browsing tersebut malah ada aplikasi audiobuku ini, berbahasa Indonesia pula. Saya senang. 😁
Saya senang karena bisa saya jadikan salah satu media belajar anak lanang. Saya ingin mengenalkan berbagai media belajar supaya anak lanang gak terpaku pada model visual aja. Karena dari hasil tes gaya belajar, saya VAK, gak ada yang dominan. Sementara abahnya anak lanang dominan visual. Tapi akhir-akhir ini abahnya merasa terjebak dalam judgement visual tersebut. Menurutnya dia bisa mengembangkan gaya belajar lain yang merupakan kelemahannya, tanpa mengabaikan gaya belajar utamanya, tapi yang terjadi adalah dia malah hanya mengembangkan kemampuan visualnya tanpa mengembangkan kemampuan lain. Apalagi sekarang kerja di bidang auditori, dia merasa sebetulnya auditorinya pun kuat. Mungkin kalau terlatih sejak kecil bisa lebih berkembang lagi.
Anyway, kembali ke audiobuku. Aplikasi ini menyediakan berbagai macam dongeng Indonesia yang dibacakan dengan gaya story telling. Sepertinya sebagian dari cerita atau dongeng di radio yang kemudian disimpan audionya. Ada juga yang memang sengaja dibacakan untuk aplikasi ini. Terutama Buku-buku baru. Iya, kalau dongeng anak memang Buku-buku lama. Rata-rata terbitan dari Kemendikbud.
Dengan banyak buku terbitan dari Kemendikbud, artinya banyak audiobuku yang gratis. Sementara untuk Buku-buku lainnya berbayar. Satu novel panjang bisa jadi terbagi dalam 5-6 bagian, masing-masing bagian dihargai 5000-10000.
Pssst, ada novel Siti Nurbaya juga loh. Saya mau baca dari SMP belum kesampaian sampai sekarang.
Untuk rate-nya saya kasih 8 dari skala 10. Karena untuk audiobuku gratisnya pun oke sekali, diiringi suara latar yang sesuai. Misal malam hari ada suara jangkrik dan tongeret, ada suara petir, nada dan intonasi pengisi suaranya yang sesuai dengan cerita yang disampaikan. Kalau untuk audiobuku yang berbayar saya belum coba dengarkan. Mau menyelesaikan yang gendongan dulu. #eh. 😁
Untuk aplikasi audiobuku bisa diunduh dari Google Playstore
Atau dari link berikut https://goo.gl/KJ8D4r
#Tantangan10hari
#level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia
No comments:
Post a Comment