Follow Us @avonturnetwork

Monday, February 12, 2018

Siapkah kami menjadi Keluarga Multimedia?

12:56 PM 0 Comments

Walaupun saya dan suami anak aplikasi dan website, tapi kami masih sangat membatasi eksposure gadget terhadap anak lanang kami (21 bulan). Alasannya sih sederhana, biar dia semangat eksplor dunia nyata dulu. Dunia nyata yang saya maksud adalah meneksplor alam yang telah ada di sekitarnya, melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, mengenal orang lain, dan lain-lain. Dan menunda kebutuhannya akan gadget karena dia memang belum membutuhkannya. Yang dibutuhkannya sekarang masih perhatian penuh dan kebersamaan dengan kedua orang tuanya. Ini yang saya pahami. 

Saya mau menegaskan sedikit tentang kehidupan dunia maya dan dunia nyata. Seluruh dunia ini maya, bukan? Karena yang Nyata hanya Tuhan. Maya ini dikenal dalam filosofi Hindu sebagai tidak nyata memang, dan segala sesuatu yang bukan Tuhan itu bersifat maya. Nah, saya dan suami berupaya meminimalisir kemelekatan kami terhadap gadget dan mendekat pada Realitas. Karena kehidupan ini maya, kalau kita terus menerus hidup di dunia maya, kapan kita akan mengenal Kenyataan? Mengenal Realitas Sejati? 

Jadi kalau menjawab judul di atas gimana dong? Kalau saya sih ingin menegaskan definisi keluarga multimedia dulu. Kami sih sampai sekarang memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin agar dapat mempermudah urusan-urusan kami. Misalnya, daripada antre di stasiun untuk pesan tiket, tinggal pesan online kemudian pergi ke stasiun ketika akan berangkat saja. Atau menggunakan aplikasi Go-Jek daripada capek bolak-balik mengambil barang yang tertinggal. Dsb. Karena tidak dipungkiri lagi teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, pilihannya kan manfaatkan atau ketinggalan. 

Saya sendiri sampai sekarang udah merasa sebagai keluarga multimedia, dalam arti yang tadi itu, memanfaatkan teknologi semaksimal untuk mempermudah urusan kami. Tapi kami tidak ingin terlalu melekat terhadap teknologi tersebut. Misal aplikasi gangguan dan tidak bisa digunakan, ya pakai cara lain yang mungkin, gak perlu hanya mengandalkan itu dan tidak mencoba cara lain. Apalagi kalau sampai marah-marah komplain di aplikasinya *tutupmuka*. Saya sendiri pernah mengalami kejadian serupa, waktu itu whatsapp yang gangguan, gak bisa diupdate dari aplikasi bawaan HP Xi**mi. Tapi akhirnya berhasil diupdate via situs Whatsapp. Saya sempat keki sepanjang hari (gak bisa terima kenyataan). Tapi akhirnya sisa hari itu saya berhasil menerima kenyataan. Dan berdamai dengan hp yang gak bisa digunakan whatsapp. Ketika saya sudah tenang, malah baru berhasil menemukan cara updatenya. 

Jadi se-Multimedia apakah keluarga kami? Jawabannya adalah cukup. Cukup memanfaatkan teknologi dan tahu kapan waktunya untuk menjaga jarak dari teknologi. Semoga kami dapat konsisten menerapkannya di keluarga kami. 

Tabik, 
Fathimah 

Aplikasi Jalan-Jalan #Level12 Day 11

12:43 PM 0 Comments

Alohaa.. 
Sebenarnya saya menulis ini karena udah meniatkan mau nulis beberapa aplikasi andalan saya untuk traveling. Kenapa perlu jalan-jalan? Supaya ibu bahagia. Ibu bahagia, maka keluarga bahagia. Saya bukan penggemar jalan-jalan level yang tiap liburan harus ke mana atau mau pergi ke destinasi liburan yang sedang heits. Saya agak antimainstream, untungnya suami pun begitu. Jadi gak ada yang pengen masuk ke keramaian. Kalau mau masuk tempat wisata ya mendingan bukan weekend, karena weekend pasti ramai. Kalau mau berenang juga. Mendingan hari Jumat ketika kolam habis dikuras, dsb. Makanya kalau ditanya di Temanggung tempat wisata mana yang ramai? Saya pasti bilang gak tau, perasaan kalau ke tempat wisata pasti sepi. Xixixi 

Kebiasaan menyepi ini juga kami terapkan waktu naik gunung. Kami selalu pilih weekdays, alasannya biar tempat kemping gak penuh. Hahaha. Walaupun risikonya orangnya lebih sedikit jadi kalau ada jalur bercabang harus ekstra hati-hati, karena gak banyak orang yang bisa ditanya. Sampai pernah kami hampir nyasar karena salah jalur waktu turun, dan udah mau maghrib pula. Tapi ya akhirnya kami balik lagi, mengetahui bahwa jalurnya gak sama dengan waktu kami naik hari sebelumnya. Dan kami gak menutup kemungkinan untuk main weekend sih, cuma memang gak sesemangat kalau weekdays aja. Pernah naik gunung weekend juga dan gak kebagian tempat kemping. Awalnya mau kemping sebelum puncak, akhirnya kami harus kemping di tanah lapang yang dekat sekali dengan puncak (ini waktu di gunung gede). Mau jalan lagi sampai Alun-Alun Suryakencana tapi teman-teman udah kelelahan dan udah mulai sunset juga, takut ada yang tertinggal kalau jalan dalam gelap. 

Oke, sekarang masuk ke aplikasinya ya.. Saya kategorikan menjadi 2, yang sebenarnya untuk beberapa aplikasi bisa disatukan alat transportasi dan tempat menginap, tapi semua layak dibandingkan. Hahaha.. karena tempat yang sama bisa jadi lebih murah di aplikasi lain. Jadi jangan menyerah! 
  1. Aplikasi pesan alat transportasi. Ini terbagi dalam beberapa aplikasi di antaranya adalah Traveloka, Pegipegi dan Tiket.com. Kenapa harus tiga ini? Karena seperti yang saya bilang, promonya bisa berbeda-beda, jadi semua layak dibandingkan. Saya sih gak yang harus pakai Traveloka atau harus pesan di Pegipegi atau harus yang lainnya. Tapi lebih ke fleksibilitas dilihat dari harga, ketersediaan tiket, jadwal perjalanan dan sebagainya. Dan jangan menutup kemungkinan bahwa aplikasi lain mungkin saja lebih murah. Kalau untuk survei harga sih saya lebih suka buka di laptop, bisa buka di tab baru dan gak bolak-balik buka tutup aplikasi. Jadi gak begitu bingung, bisa dijajarkan beberapa tab gitu. 
  2. Aplikasi cari tempat menginap. Ini ada banyak sekali sebenarnya, bahkan Traveloka, Pegipegi dan Tiket pun menyediakan layanan pemesanan hotel dan mereka pun bekerja sama dengan hotel dan penginapan di berbagai kota bahkan berbagai negara. Tapi tetap saja kalau mau cari tempat menginap gratis yah coba saja couchsurfing. Saya dulu pernah memesankan untuk teman yang datang dari Singapura. Karena dia datang sendiri dan bujet terbatas. Cari di  couchsurfing dapat sebuah rumah yang disediakan oleh sepasang suami istri muda yang belum punya anak, akhirnya dapat teman baru. 
          Jadi kalau Couchsurfing itu sistemnya adalah ada orang-orang yang menyediakan tempatnya untuk dikunjungi dan ditempati oleh backpacker dari mana pun secara cuma-cuma, dan biasanya mereka pun melakukan hal itu ketika bepergian, mencari tempat yang menyediakan penginapan cuma-cuma. Dan disatukan dalam website dan aplikasi bernama couchsurfing. Ada orang yang menyediakan tempat agar punya teman dari berbagai negara meskipun dia gak suka jalan-jalan, ada yang untuk tujuan supaya ketika dia jalan-jalan juga bisa mendapat tempat menginap gratis. Sebenarnya kita bisa pasang tarif yang menurut kita layak dan bisa dinegosiasikan dengan calon tamu. Saya sendiri belum pernah menginap menggunakan couchsurfing, karena belum berkesempatan saja sih. Waktu ke Lombok akhirnya mengunjungi keluarga sepupu saya di sana. Waktu ke Malang ada adik saya. Mungkin kalau jalan-jalannya ke luar negeri bisa dimanfaatkan ya.. Amiiiin *untuk jalan-jalan selanjutnya ke mana pun itu*. 

Nah selanjutnya ada beberapa aplikas pencarian tempat menginap yang layak dicoba: di antaranya adalah Booking.com ini salah satu situs yang patut dipertimbangkan ketika kita mencari tempat menginap. Karena bisa menyediakan berbagai alternatif hotel dan penginapan. Tergantung bujet. Ada juga Airbnb, kalau ini biasanya lebih ke kos-kosan atau semacam couchsurfing tapi berbayar. Orang-orang yang di rumahnya ada kamar ekstra yang bisa ditinggali sementara, dengan tarif yang disesuaikan dengan preferensi pemilik, jadi kita bisa memilih lokasi paling strategis menurut kita. Misalnya mau kondangan di kota lain, ya barangkali tetangganya ada yang menyediakan rumah di airbnb sehingga gak perlu lagi mikir ongkos, tinggal jalan. 

Untuk yang tertarik mengunduh aplikasinya bisa ke sini: 
Traveloka:  https://goo.gl/6VaEaL
Couchsurfing: https://goo.gl/7bQqNY

Aneka Situs Kesehatan Anak #Level12 Day10

11:54 AM 0 Comments
Pap syupap dubidu bidu...
Hahaha, ngapain sih mbok?

Jadi sebenarnya review hari ini itu mau melengkapi yang kemarin tentang milis sehat. Kenapa gak disatuin? Biar hari kesepuluh ada yang ditulis *tutup muka*. Soalnya saya hampir kehabisan ide ini. Saya belum download-download aplikasi untuk latihan anak lanang, soalnya anaknya belum 2 tahun, masih lebih asik aktivitas fisik dibandingkan main di hp. Saya masih sangat membatasi juga. Maksimal 10 menit per minggu. Walaupun kalau pura-pura main laptop ya tiap hari, wong laptop saya nyala terus. Selalu berusaha curi-curi waktu untuk kerja di sela menemani anak lanang main.

So here we are, beberapa situs favorit saya kalau anak lanan lagi demam. Nungguin anak demam sambil browsing baca-baca situs kesehatan. Soalnya kalau anak gak sakit, saya suka lupa bacanya. Kurang motivasi kayaknya. Nah, ketika anak sakit, baru deh mulai tertarik baca dan cari-cari berbagai informasi terkait sama penyakit yang diderita anak, atau penyakit lain sih. Seringkali saya random aja baca yang kira-kira menarik. 

Karena saya tergabung juga di milis sehat, jadi kadang saya cari penyakit yang lagi dibahas di milis untuk saya baca. Maksudnya kadang biar bisa nimbrung diskusi. Tapi sampai sekarang sayanya jarang komentar. Telat terus.. yang lain ilmunya udah update, saya mah tertatih-tatih membacanya. 

Kembali ke situs-situs kesehatan favorit. Ini semua direkomendasikan oleh dokter-dokter di Milis Sehat sebagai situs terpercaya dan bukan situs hoax. Di antaranya adalah:  
  1. Mayo Clinic https://www.mayoclinic.org/Ini salah satu situs yang cukup sering dirujuk di artikel Milis Sehat. Jadi ternyata Mayo Clinic adalah sebuah organisasi riset nirlaba terkait dengan riset di bidang kesehatan dan praktik kesehatan. Mayo Clinic ini memang mem-provide informasi untuk para pasien dan keluarga pasien menjadi lebih aware dengan penyakit yang dideritanya. Bisa jadi bahan diskusi juga dengan dokter yang merawat kita. (Ini akhirnya saya baca wikipedia tentang Mayo Clinic dan baca kolom about-nya juga, biasanya enggak dibaca-baca karena udah percaya sama dokter yang merekomendasikan. Nambah pengetahuan, Yeay!)
  2. AAP (American Academy of Pediatrics) https://www.aap.org. Ini adalah IDAI-nya Amerika. Ini cuma saya baca kalau saya lagi butuh banget cari pengertian dan pengobatan suatu penyakit, buat opini tambahan. Karena prinsipnya sama dengan IDAI di sini sih. Malah lebih gampang baca artikel di IDAI, karena bahasa Indonesia. Gak perlu loading lama. Tapi ya bagus juga buat tambahan pengetahuan kalau penasaran banget dengan pandangan dokter-dokter anak di Amerika terkait dengan hal-hal yang ingin kita ketahui. 
  3. CDC (Center for Diseases Control and Prevention) https://www.cdc.gov/. Ini juga situs kesehatan di Amerika. Tujuan dari situs ini memang sesuai dengan namanya pusat pengendalian dan pencegahan penyakit. Jadi ya memang menyediakan berbagai informasi kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. 
  4. Baby Center https://www.babycenter.com/. Kalau ini langganan saya dari pas masih hamil. Masih saya pake sampai sekarang, buat ngitung umur anak lanang dalam bulan. Kalau bukan karena email dari Baby Center saya harus ngitung manual lagi jangan-jangan. Kalau apps, cuma dipakai pas hamil sampai setahun pertama. Habis itu gak pakai lagi kayaknya masalah storage. Kalau email masih dapat email terus tiap minggu terkait perkembangan anak. Dan saya senang karena masih dapet email. Dua email yang paling sering saya baca itu ya dari milis sehat sama baby center. Soalnya email pribadinya udah jarang banget di situ. Hahaha.. kebanyakan langganan. Untung facebook gak masuk situ. 
  5. IDAI (http://www.idai.or.id/). Ini situs yang dibuat oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia. Dan ini situs resmi yang ditulis oleh dokter-dokter yang tergabung dalam organisasi IDAI. Sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Sekarang bahkan bisa konsultasi via web IDAI juga. Sebelumnya saya cuma liat artikel-artikelnya saja. Jadi lebih punya alasan juga untuk berkunjung ke web IDAI. 


Tapi perlu diingat bahwa konsultasi via online TIDAK AKAN PERNAH BISA menggantikan konsultasi tatap muka. Dokter kan perlu melakukan anamnesis (wawancara riwayat penyakit dan gejala-gejala yang dialami pasien), memeriksa kondisi fisik yang sakit, memeriksa gejala dan tanda lainnya sebelum melakukan diagnosis. Makanya kalau mau konsultasi online itu adalah menanyakan penyakit tertentu treatment-nya gimana, atau kalau butuh pendapat tambahan. Tapi diagnosis tetap dilakukan dokter yang memeriksa dan bertatap muka. 

Kayaknya sudah cukup ya situs-situs kesehatannya. Nanti kalau saya nemu lagi saya update lagi di blog ya.

See you next time. 

Sunday, February 11, 2018

Milis Sehat #Level12 Day 9

5:21 PM 0 Comments

What? Milis? Hari gini masih ada emangnya milis? Bukannya udah pada gak aktif terus pindah ke facebook ya? 
Awalnya saya pun mikir begitu. Karena ya masa iya sih pake milis. Tapi terntaya memang milis sehat masih aktif dan sangat membantu saya berdiskusi dengan teman-teman yang memiliki masalah kesehatan dengan anaknya. Milis sehati dibuat oleh Yayasan Orang tua Peduli (YOP) yang digawangi oleh beberapa dokter anak dan orang tua peduli yang peduli dengan kesehatan anak. 

Jadi di milis sehat ini diskusinya kebanyakan adalah tentang sumber pengetahuan tambahan berkaitan dengan kesehatan. Maksud saya ini kan era digital nih, akses kita terhadap berbagai ilmu pengetahuan itu seperti terbentang (hampir) tanpa batas. Berbagai bidang ilmu dapat kita akses dari rumah, makanya saya merasa overwhelmed sekali dengan dunia informasi di bidang kesehatan anak dan keluarga. Dulu setiap ada email masuk di milis saya meluangkan waktu untuk baca, biasanya saya sambil nyusuin. Karena waktu nyusuin hp saya offline, maka saya buka dulu emailnya di luar kamar, baru pas masuk kamar saya bacain satu per satu. Sekarang masih suka baca tapi kadang-kadang aja. Anak Lanang udah susah disambi, maunya saya nemenin dia main keluar terus. >.< 

Saya sih seneng juga main keluar, jalan-jalan ke sawah, jalan-jalan ke kali kecil di deket sawah, tapi semenjak pulang kota (mudik ke tempat suami) belum nemu lagi tempat semacam itu. Paling jalan keliling komplek. Yang ya main di paving atau aspal aja. Semoga nanti berkesempatan main di tanah dan rumput lagi. Setelah urusan di sini selesai, kami akan ngampung. 

Oh, iya kalau ada yang berminat untuk gabung dengan milis sehat bisa melalui mekanisme berikut: 

Berbagai artikel di bidang kesehatan dapat diakses di: http://milissehat.web.id/

Selamat bekerja sama dengan dokter anak mengawal dan memantau kesehatan anak. Salam Sehat!

Aplikasi PRIMA #Level12 Day8

4:36 PM 0 Comments

Haloooo *waving hand* *salim satu-satu*     
Saya baru balik lagi. Padahal niatnya gak akan rapel, pada akhirnya rapel juga. Konsisten mengerjakan tugas 10 hari itu berat ya. Saya salut pada teman-teman yang selalu konsisten. Saya habis pergi-pergi mengunjungi saudara dan kawan yang udah lama gak jumpa. Jadi ya gitu pulang dalam kondisi kelelahan, mau ngerjain tugas takut isinya misuh-misuh aja *iya nih anaknya suka gitu* haha. 

Anyway, saya udah niat kalau dari hari 7-10 saya akan review aplikasi-aplikasi yang membantu saya selama mendampingi proses tumbuh kembang Anak Lanang. Tadinya mau saya satukan semua, tapi kok banyak. Mau dipisah satu-satu, tapi kok kelamaan. Akhirnya saya satukan kadang dua kadang tiga. 

Saya mulai masuk ke aplikasi aja ya.. Namanya aplikasi PRIMA. Ini adalah aplikasi IDAI. Isinya adalah Jadwal Imunisasi, Grafik Pertumbuhan, Tahap Perkembangan anak (ini isinya kuesioner hal-hal yang sebaiknya sudah dapat dilakukan anak sesuai usianya), Kuesioner Kunjungan ke dokter, Materi Edukasi Orang Tua, Skrining. 

Nah, saya mau ulas satu per satu ya.. Jadwal Imunisasi ini berguna sekali. Soalnya saya sih gak selalu bawa buku pink ke mana-mana. Jadi imunisasi saya tulis di HP, praktis saya bawa ke mana aja. Dan lebih enak karena kan bisa nambah dua anak juga. Jadi dua anak tetap di satu catatan. Tiga anak juga bisa. Ada data orang tua juga. Dan aplikasi ini pakai password sih, jadi gak sembarang orang bisa buka. 

Kedua adalah Grafik Pertumbuhan. Saya bisa mengukur pertumbuhan anak sesuai grafik WHO. Hanya saja, berat badan dan tinggi badan anak tidak terekam (atau saya yang belum tau datanya tersimpan di mana) jadi setiap mau liat grafik ngisi lagi. Dan gak ada isian tiap bulan, jadi kalau timbang, ukur tinggi dan lingkar kepala di Posyandu ya cuma saya tulis di buku dan di note hp. Baru kalau mau liat grafiknya saya plot ke grafik. 

Ketiga, Tahap perkembangan anak sesuai usianya. Jadi misalnya ada ceklis bisa dan tidak bisa, lalu di sampingnya ada pertanyaan, anak bisa berjalan mundur lima langkah tanpa terhuyung. Nanti ada sekitar 10 pertanyaan, kalau anak kita bisa semua maka termasuk normal pertumbuhannya, kalau anak gak bisa beberapa bagian, maka perlu konsultasi dengan dokter  spesialis tumbuhkembang anak. Jadi di aplikasi ini hanya untuk deteksi dini pertumbuhan/perkembangan yang terlambat. Walaupun tetap saja kalau biasanya konsultasi dengan dokter anak, bisa tetap dikonsultasikan setiap ada hambatan dan keterlambatan dalam perkembangan anak. 

Buat saya sih mengetahui tahap perkembangan anak ini penting. Setiap anak berbeda-beda memang, tapi ada koridor umum bahwa jika anak terlambat sangat jauh, maka perlu dicari tahu penyebabnya dan diatasi masalahnya. Misalnya untuk kemampuan berjalan. Anak bisa mulai berjalan tanpa berpegangan ada yang dari umur 9 bulan ada juga yang baru bisa berjalan umur 18 bulan. Saya cek di KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) maksimal anak 18 bulan sudah berjalan tanpa berpegangan. Nah, ini yang saya jadikan patokan. Selama anak saya belum 18 bulan, maka saya gak heboh kalau anak belum jalan. Dan gak perlu ngebanding-bandingin sama anak lain pula. Karena tiap anak itu unik. Nah, di aplikasi ini tahap perkembangan anak dibuat kuesioner sederhana, dan kita bisa melihat apakah anak perkembangan anak kita sesuai dengan kemampuan anak seusianya atau tidak. 

Keempat, Kuesioner Kunjungan ke dokter. Ini salah satu ilmu baru buat saya waktu punya anak. Jadi ketika kita ke dokter harus berbekal pertanyaan apa saja yang akan kita tanyakan. Dan ada beberapa hal yang memang harus diperiksa oleh dokter, misalnya berat badan, tinggi badan, ukuran lingkar kepala, suhu badan dsb. Pemeriksaan lainnya nanti bisa tergantung keluhan. Jadi kita datang ke dokter bukan dengan tangan dan kepala kosong, nanti ketika dokter memberitahu A, B, C kita iya-iya aja. Tapi kita datang berbekal sedikit pengetahuan untuk mendapatkan penjelasan lebih memadai dari dokter. 

Misalnya saja anak demam 4 hari dengan model demam naik turun seperti pelana kuda. Kita pelajari pola demamnya seperti typhus atau demam berdarah, pelajari demam typhoid dan demam dengue atau demam berdarah dengue, lalu ketika ke dokter tanyakan apa diagnosisnya dan bagaimana penanganannya. Misalnya dokter mendiagnosis ini demam thyphoid, ya kita bisa menanyakan apa yang tidak kita pahami dari artikel yang kita baca atau apa yang perlu didiskusikan dengan dokter. Jadi intinya sih jangan datang dengan tangan kosong banget. Paling gak kita sudah mempelajari anak kita sakitnya mengarah ke mana. 

Kenapa harus baca dulu? Karena Ibu adalah dokter anak untuk anaknya masing-masing. Ibu bersama anak 24 jam dan mengetahui apa saja yang dilakukan, apa saja yang dimakan, dengan siapa saja dia berinteraksi, dsb. Sementara dokter hanya bertemu beberapa menit di meja periksa, banyak hal yang gak diketahui dokter tentang anak kita. Makanya ibunya yang harus lebih gesit mencari informasi dan melakukan pengamatan serius ketika anak sakit, supaya ketika bertemu dengan dokter bisa mendeskripsikan dengan detail, membantu dokter memberikan diagnosis yang lebih akurat. 

Jadi intinya sih membantu dokter juga anak kita agar terhindar dari kesalahan pengobatan. Misalnya sakitnya karena virus dan gak butuh Antibiotik, tapi karena ketika anamnesis orang tuanya tidak menceritakan detail, dokter mendiagnosis bahwa butuh antibiotik ya nanti salah sasaran. Virusnya kan gak butuh antibiotik. 

Makanya intinya sih orang tua dan dokter anak bekerja sama untuk memberikan perlindungan kesehatan untuk anak. 

Kelima Materi Edukasi Orang Tua. Nah ini mau belajar aja udah instan, tinggal buka aplikasi. hahaha.. Saya dulu rajin banget baca materi edukasi ini. Karena ya lagi butuh-butuhnya. Apa aja sih yang perlu diketahui tentang pertumbuhan anak, apa aja sih yang perlu diketahui tentang kesehatan anak, dsb. Makanya saya senang pas download aplikasi ini, bermanfaat sekali. 

Terakhir adalah skrining. Skrining Perkembangan anak ini diambil dari KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) bisa dilihat di KPSP
Ini isinya seperti kuesioner di atas tapi hanya berisi daftar pertanyaan. Dibuat oleh dokter spesialis tumbuh kembang anak, yang baik sekali membuatkan KPSP ini di web yang bisa diakses secara cuma-cuma. Kalau dari kuesioner itu ada 3 item yang tidak bisa dilakukan anak kita, maka kita perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter ahli tumbuh kembang. Sehingga cepat mendapatkan penanganan.

Wah, udah panjang ternyata. Segitu dulu ya review-nya. Nanti saya lanjut lagi. See you!  

Update: Untuk yang tertarik menginstall aplikasi PRIMA di HP bisa melalui link berikut ya: https://goo.gl/MA2HR7

Friday, February 9, 2018

Senjata Ibu Baru #level12 Day 7

6:28 AM 0 Comments

Halo mak-mak, simbok-simbok, mamah-mamah, dan ibu-ibu sekalian *wavinghand* 

Buibu mau tanya dong, pegangan wajib waktu baru lahiran apa? 

Kalau saya yang pertama dan utama adalah ilmu. Karena segala sesuatu membutuhkan ilmu. Mau manjat pohon aja ada 

Saya sampai sekarang merasa beruntung bisa bergabung di berbagai support system untuk mendukung optimalisasi waktu dan pikiran dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak. Hari ini saya mau mendeskripsikan apa aja senjata saya dalam mempersiapkan diri untuk proses awal menambah pengetahuan tentang menjadi Ibu. 

AIMI (https://aimi-asi.org)  

Sejak hamil saya udah baca-baca tentang asi dan mengasihi. Ini gara-gara ada teman yang sudah lebih dulu melahirkan dan cerita bahwa menyusui itu butuh ilmu, kemauan dan perjuangan. Karena itu saya yang tadinya mikir asi mah tinggal asi aja, semua ibu pasti bisa dan mampu menyusui, tinggal susuin aja, apa susahnya. Lalu ternyata banyak dinamikanya dalam proses menyusui itu. Ada yang tidak keluar asinya sampai seminggu, ada yang anaknya menolak menyusu karena beda golongan darah, ada yang asinya tengik, dsb. Banyak faktor, banyak jenis orang dan banyak jenis asi. 

Berbekal pengetahuan ini, saya tahu bahwa menyusui gak asal menyusui aja, memang tak perlu memperjuangkan kok, setidaknya berjuang mencari ilmu. Dan beruntungnya  dengan bekal ilmu itu saya jadi gak panikan. Saya siap dengan puting lecet, siap dengan gumoh dan bahkan kolik. Walaupun rumy gak kolik, praise the Lord. 

Kellymom (https://kellymom.com

Nah ini saya baca gara-gara banyak tulisan panduan di AIMI mengutip atau bahkan menerjemahkan dari link ini, jadi saya Kepo dan baca-baca kellymom sekalian. 

Kidshealth (http://m.kidshealth.org/?WT.ac=

Kalau ini awalnya dari buku dr. Apin. Kan di buku itu dijabarkan beberapa situs yang terpercaya dan bisa dijadikan pedoman. Saya akhirnya rajin baca kidshealth waktu itu. 

Duh maaf segini dulu. Saya pengen bisa edit nanti. Hari ini hari yang panjang buat saya dan anak lanang. See you Next time. Bye!

Wednesday, February 7, 2018

Flip.id Apps and web #Level12 Day 6

6:28 AM 0 Comments
Hellow Sunshine.. 
Buibu pasti pernah melakukan transfer antarbank ya? 
Saya sih sering, untuk urusan kerjaan terutama, karena tim kerja saya pegang rekeningnya beda-beda. Jadinya mau gak mau harus melakukan transfer ke bank lain. Berapa sih biaya transfer antarbank? 5000 (dari BCA online banking) dan 6500 (dari Mandiri). Dua rekening itu yang sering saya gunakan. Kalau dari akun bank lain sepertinya 6500 atau sesuai kebijakan bank yang bersangkutan. 

Nah, kalau 5000 aja biayanya, transfer 10 kali udah 50.000, udah bisa buat jajan es krim sampai puas. #masihjajanmba? 

Sejak beberapa bulan lalu, saya mulai menginstall aplikasi kesayangan sampai hari ini, flip. Kalau baca review dan testimoninya, ini aplikasi buatan anak-anak muda kurang kerjaan yang mau bikin urusan transfer antarbank jadi mudah dan murah. Jadi flip ini adalah pihak ketiga yang membantu kita melakukan transfer ke rekening tujuan. Mekanisme kerjanya adalah kita mengisi form transfer di aplikasi atau situs flip, lalu kita melakukan transfer ke rekening flip yang sama dengan bank yang kita miliki. Kemudian Flip akan mentransferkan uang sejumlah yang kita inginkan ke rekening tujuan menggunakan akun bank yang sama dengan rekening tujuan. Biasanya ketika kita transfer ke rekening flip, kita akan diberi kode unik (biar gampang admin mencocokkan nominal yang akan ditransfer). Lalu transferan akan diproses. (Eh bisa dipahami kan ya?) 
Ya intinya gitu lah ya.. 
 
Oh, iya, flip ini diawasi oleh OJK dan BI loh, jadi untuk pendaftaran awal harus melakukan verifikasi tatap muka. Proses verifikasi bisa dilakukan di semua kota di Indonesia, karena Flip sudah bekerja sama dengan alfamart non-franchise yang ada di kota kamu. Kalau gak tau alfamart yang mana, bisa langsung chat admin flip yang selalu setia melayani kita via web ataupun via aplikasi. 

Nah, karena flip ini sangat menguntungkan, tiap hari antre ketika mau melakukan transfer. Buat saya sih belum pernah jadi masalah. Karena kalau transfer antarbank via setor tunai pun butuh waktu. Mulai dari waktu berjalan ke bank, mengantre di bank, pelayanan di counter teller, lalu menunggu uangnya sampai. Biasanya antrian sampai 200 bisa selesai dalam 1-1,5 jam kok. Gak terlalu lama. Bisa ditinggal dan nanti kalau udah selesai ada notifikasi. Sungguh, flip sangat baik. 

Oh, iya, nominal maksimal transfer gratis per hari adalah 5 juta rupiah. Lebih dari itu nanti kena biaya 2.500 per transaksi (Masih lebih murah dibanding biaya transfer antarbank dari banknya langsung). 

Sampai hari ini saya sangat puas menggunakan flip. Bisa ngirit uang jajan juga. Karena gak perlu jalan-jalan ke mana-mana untuk bisa transfer lebih mudah dan lebih murah. 
Untuk yang tertarik dengan aplikasi ini bisa diunduh di: https://goo.gl/VDRfSk

#Tantangan10hari
#level12
#KuliahBunsayIIP

#KeluargaMultimedia

Tuesday, February 6, 2018

Da Tuner Lite, untuk musik lebih merdu #Level12 Day5

11:24 AM 0 Comments
Jadi ceritanya beberapa waktu lalu ketika main ke Jogja saya dan suami pengen beli Djembe, alat musik pukul itu loh. Tapi di sebuah toko ketika melihat-lihat kami tertarik membeli Kalimba, alat musik yang dimainkan dengan jempol. Disebut juga thumb piano, karena kita menggetarkan lempeng logam yang menghasilkan nada yang mirip seperti menekan tuts piano tapi hanya dengan kedua jempol. 

Nama lain Kalimba ini adalah Mbira. 

Kalimba ini merupakan alat musik tradisional Afrika, walaupun alat musik yang saya beli diproduksi di Indonesia. Bahannya perpaduan antara batok kelapa dan kayu yang dilem, kemudian diberi lubang kecil untuk mengeluarkan buyi, dan di atasnya diletakkan beberapa logam pipih yang menentukan nada. 

Seperti ini penampakannya: 


Gambar dari: https://goo.gl/F1EPaC

Sebagai sepasang suami istri yang sangat awam dengan musik, saya dan suami awalnya merasa baik-baik saja dengan nada-nada yang dihasilkan si Kalimba ini. Akan tetapi lama-lama saya mainkan kok gak dapat susunan nada yang pas. Do-Re-Mi-Fa-Sol-La-Si bukan, Da-mi-na-ti-la-da juga bukan. Akhirnya saya cari di google yang mana ternyata perlu di-stem. Dicocokkan nada dengan nada-nada dasar. Bisa pakai nada mayor ataupun nada minor. Terserah kita mau dimasukkan nada apa.

Akhirnya karena telinga kami gak sensitif, kami pun mengunduh sebuah aplikasi penyelamat kebahagiaan kami. DaTuner Lite. Ini aplikasi yang bisa menggantikan sensitivitas telinga dalam mendengarkan nada. Hahaha 

Jadi nanti kita petik satu per satu nadanya untuk tahu suara yang dihasilkan ada di nada mana. lalu kita kencang dan kendorkan baut yang ada, digeser, ditarik, didorong tuts-tuts kalimbanya, supaya menghasilkan nada yang sesuai dengan yang kita inginkan.

Aplikasinya mudah sekali digunakan. Tapi saya kapok men-stem-semacam itu. Pusiang Ambo. Jadi cukup sekali #lalunyanyi. 

Oh iya, Da Tuner Lite bisa diunduh di: https://goo.gl/8d5f6r

#Tantangan10hari
#level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia

Wunderlist #level12 Day4

11:08 AM 0 Comments
Wohooo, kali ini saya mau review aplikasi untuk orang pelupa #tunjukdirisendiri. 
Kenapa untuk orang pelupa, karena ini aplikasi untuk taking note apa yang akan kita lakukan selanjutnya, apa yang perlu dibeli, apa yang perlu dicatat, dan yang lebih menyenangkan lagi ada remindernya. Makanya cocok untuk orang yang cukup pelupa seperti saya. 

Nama aplikasinya Wunderlist. Aplikasi ini saya gunakan untuk menggantikan catatan yang saya bawa ke mana-mana semacam post it. Pokoknya saya kalau mau nulis ya di HP, jarang bawa pulpen dan buku, karena suka lupa (lupa bawa pulang dan akhirnya hilang, padahal catatan di dalamnya macam-macam, terus uring-uringan, ngomel-ngomel dan bete sendiri--sungguh gak baik untuk kesehatan jiwa). Setelah semua terintegrasi di HP saya gak merasa perlu bawa catatan lagi. Terus kalau hp-nya yang hilang? 
Ya detach dulu.. mungkin kita kehilangan sesuatu agar attach dengan barang-barang di sekitar kita. #enakbangetmbangomongnya #emangiya #ngomongmahgampang #oopsie 

Alright, kembali ke aplikasi Wunderlist, langsung masuk ke pros dan cons-nya aja ya.. 

Pros: 
  1. Dapat digunakan multi user. Kita bisa mengundang orang lain untuk kategori catatan tertentu. Misal untuk kategori catatan belanjaan, saya mengundang suami, untuk kategori catatan pekerjaan, saya mengundang teman-teman kerja saya dong, untuk mengingatkan deadline, pembagian tugas, dsb. 
  2. Dapat diberi alarm pengingat. 
  3. Dapat meng-address catatan tertentu untuk seseorang. Misal saya ingin A membeli telur besok jam 9, saya bisa mengirimkan catatan itu ke A (Syaratnya A harus sudah install Wunderlist di hp-nya). 
  4. Bisa menggantikan alarm di Kalendar. 

Cons: 
  1. Entah kenapa saya seringkali gak ngeh dengan notifikasinya, tapi saya belum pasti apakah gak ada notif atau saya yang mengabaikan. 
  2. Gak bisa bikin sub kategori. Tapi ini cons untuk versi gretong. Karena versi berbayarnya menyediakan ini. 
  3.  Assignment yang terbatas (sama juga ini untuk free version, kalau yang pro versionnya bisa unlimited). 

Oke, sekian dari saya, terima kasih sudah menyimak review hari ini. 

Untuk yang ingin install aplikasi ini, bisa diunduh di: https://goo.gl/7NVFzJ

#Tantangan10hari
#level12
#KuliahBunsayIIP

#KeluargaMultimedia

Monday, February 5, 2018

Aplikasi Gue Banget #Level12 Day3

12:17 PM 0 Comments
Well, ini kenapa judulnya aplikasi gue banget ya.. 
Soalnya ini aplikasi yang paling membantu saya selama masa-masa penerimaan diri sebagai perempuan. Saya tumbuh sebagai anak perempuan pertama dari empat perempuan bersaudara. Artinya orang tua saya gak punya anak laki-laki. Jadi, saya dari kecil beranggapan bahwa perempuan juga harus bisa melakukan pekerjaan laki-laki karena Bapak saya kebanyakan gak bisa ngerjain sendiri. Saya sih yang sering jadi asisten. Mulai dari benerin genteng bocor (manjat ke atas) sampai berurusan dengan setruman listrik, mencangkul, dsb. 

Walaupun dengan berbagai kegiatan itu, saya sama sekali gak pernah merasa saya ini tomboy. Saya hanya punya pendapat bahwa perempuan juga bisa. Atau kenapa perempuan enggak? Sounds like feminist eh? #tutupmulut 

Nah, sejak menikah, saya baru sadar kalau perlu ada bagi tugas antara laki-laki dan perempuan. Ada hal-hal yang gak perlu perempuan lakukan dan hal-hal yang gak perlu laki-laki lakukan, entah alasan efektivitas dan efisiensi atau alasan preferensi semata. Tapi paling gak saya udah gak begitu ngebet lagi pengen naik ke genteng kalau hujan dan ada bagian yang bocor, atau saya gak begitu pengen bawa motor gede suami, walaupun bisa, percaya aja sama suami. hahaha 

Karena menikha juga saya sadar bahwa ada pembagian peran sebagai ibu dan sebagai bapak (untuk calon anak waktu itu). Sayangnya saya belum pengen jadi ibu. Akhirnya saya bergantung pada aplikasi ini untuk mencatat tanggal haid dan perkiraan masa subur saya. #tutupmuka 
Dan akhirnya saya diberi waktu penyesuaian dengan suami dan mempersiapkan diri--yang saya mah gak nyiapin apa-apa, malah naik gunung yang ada juga--untuk menjadi ibu, selama dua tahun. Such a lovely time. Pacaran berdua suami, kerja, jalan-jalan, main sana, main sini, pulang malam, pulang pagi bareng-bareng, dsb. 

Sampai suatu ketika saya hamil yang ketahuannya ketika saya turun dari gunung Rinjani. #ngikik #tutupmuka #waktuituenggaktahu
Saya beruntung rajin menuliskan tanggal haid di aplikasi ini sehingga saya tau kapan HPHT-nya. Jadi perhitungan HPL-nya pun akurat. (Cuma beda sehari sama HPL). 

Anyway, ini dia aplikasinya: 
Nama aplikasinya My Calendar fungsinya adalah untuk mencatat tanggal dan lamanya menstruasi. 
Pros: 
  1. Bisa diatur password, biar lebih aman kalau ada catatan yang sifatnya personal 
  2. Bisa menghitung perkiraan masa subur dan perkiraan ovulasi dengan memasukkan data rata-rata durasi menstruasi kita dan siklus menstruasi kita. 
  3. Catatan lengkap yang berisi pilihan flow, moods, symptoms, weight and temperature, juga intercourse (makanya perlu password, haha) 
  4. Tampilan menarik dan mudah dibaca 
Cons: 
  1. Gak ada. Masa iya sih? Tapi saya sampai sekarang belum nemu. 

Saya udah pakai aplikasi ini sejak tahun 2014. Artinya memang sejak awal nikah. Dulu sempat browsing beberapa aplikasi lain, tapi ada kurangnya. Misalnya gak bisa memperkirakan masa subur, gak ada data-data rata-rata lamanya durasi menstruasi kita dll. Kalau kayak mood sama symptoms itu gak begitu butuh. Dulu saya suka nulis, jadi tahu seberapa parah sakit saya waktu itu. Tapi ke sini-ke sini mah males ya nulisin begituan. Akhirnya saya cuma kasih catatan aja, agak sakit, sakit sekali atau gimana. Males buka masing-masing part untuk milih. 

Selain itu, berkat aplikasi ini juga saya berhasil menunda kehamilan sampai 2 tahun waktu itu.

Well, kalau mau unduh aplikasi ini bisa dari link berikut ya: https://goo.gl/dXh9um

Duh, saya mau review aplikasi cerita pengantarnya panjang banget #ampuun #tutupmukapakejilbab #tutupmukapakebantal #tidurdeh


#Tantangan10hari
#level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia

Aplikasi Keuangan dalam genggaman level #12 Day 2

11:33 AM 0 Comments
Halooow. 
Kali ini saya mau review tiga aplikasi Keuangan. Kenapa disatukan? Soalnya kan sama-sama aplikasi Keuangan. Ini berdasarkan penjelajahan saya atas kebutuhan pencatatan keuangan kami. Jadi tentu saja belum tentu cocok dengan keluarga lain. Tapi tetep layak untuk dicoba. 

Penjelajahan saya bermula ketika kami butuh untuk melakukan pencatatan keuangan untuk pekerjaan saya dan suami. Sebelumnya pencatatan dilakukan, sekadar pencatatan di Excel. Hasilnya tidak memuaskan, karena saya belum membuat rumus perhitungannya. Perhitungan kurva untung rugi selalu terlambat. Biasanya beberapa bulan setelahnya saya baru tahu bahwa bulan sebelumnya kami dapat keuntungan atau malah rugi.  Alasan saya selalu sama, tidak sempat. Karena biasanya saya juga membantu mengedit, jadi ya alasannya waktu. Mencatat keuangan selalu saya lakukan di sela-sela waktu mengasuh dan mengASIhi, memasak, mengedit pekerjaan. Jadi saya butuh aplikasi yang  real time. Akhirnya perburuan dimulai. 


1. Akun.biz
Ini akun berbayar pertama yang kami coba. Waktu kami coba langsung kami bayar. Karena ingin mendapatkan manfaat maksimalnya. Awalnya kami tahu aplikasi ini dari iklan di instagram. 
Pros:
  1.  Dapat digunakan banyak user dan berjenjang. Artinya user utama (moderator) bisa mengatur user lain hanya bisa melihat data pemasukan pengeluaran, tanpa melihat jumlahnya. Atau bisa memasukkan data pemasukan dan pengeluaran tapi tidak bisa melihat kurva. Dan lain sebagainya. Ini menguntungkan jika kita mempekerjakan admin. Menjaga keamanan transaksi keuangan sangat penting untuk kelangsungan usaha kita, maka ini adalah salah satu caranya.
  2. Dibuat oleh anak bangsa. Kelebihan kedua ini terkait dengan transaksi keuangan via transfer bank. Akun.biz ini bekerja sama dengan beberapa bank di Indonesia untuk kemudahan pencatatan transaksi. Jadi kita gak perlu input dua kali untuk transaksi via transfer/ nontunai. 
  3. Bisa digunakan di komputer/ laptop, hp, tablet. Untuk aplikasi berbayar jumlah user bisa mencapai 10 orang (komputer, hp, email yang berbeda). 
  4. Bisa digunakan untuk lebih dari satu bisnis. Kalau kita punya beberapa usaha di bidang berbeda, gak perlu beli aplikasi berkali-kali, karena aplikasi ini mengakomodir sampai 10 bisnis. 
  5. Bisa bikin invoice juga.

Cons:
  1. Gak ada chart. Sebagai anak visual ini cukup mengganggu karena Flow chartnya gak kelihatan. Sehingga harus ngebayangin sendiri naik turunnya orderan setiap harinya. 
  2. Template invoice kurang menarik (personal reason). Ini kayaknya karena saya yang anaknya visual banget. Kalau invoicenya aja yang pakai aplikasi lain kan repot. 
  3. Input invoice hanya bisa dilakukan via Web, tidak bisa via aplikasi smartphones, makanya agak repot. 
  4. Penampilan kurang menarik. Data yang disajikan tidak lengkap, tidak disertai dengan total pengeluaran dan pemasukan, sehingga membingungkan dalam proses pengecekan. 
  5. Tidak disertai total pengeluaran harian. Harus dicek di tab yang lain untuk melihatnya. 
  6. Tidak ada payee, sehingga kita tidak tau siapa yang menerima uang kita pastinya, untuk ke depannya jadi gak bisa dicek. 

Untuk saya sendiri aplikasi ini cukup membantu. Sangat membantu malah, karena multi user dan multi usaha ini. Penggunaannya pun relatif mudah karena tidak perlu mempelajari bahasa akuntansi yang rumit. Kita hanya perlu membuat kategori pengeluaran berdasarkan kebutuhan kita, dan kategori pemasukan berdasarkan sumber usaha kita. Dalam berbagai aplikasi keuangan, hal ini sangat diperlukan.

Beberapa aplikasi keuangan menyediakan kategori bawaan. Tapi kalau buat saya sendiri masih kurang kategorinya. Karena seringkali kategori bawaan tidak detail dan sebagian tidak sesuai dengan kebutuhan kita. Sehingga kita perlu menambah-kurangi berbagai kategori yang tidak sesuai. 

Selanjutnya, aplikasi ini dapat diunduh di: https://goo.gl/zPqGt5 


Expense IQ
Aplikasi kedua yang saya akhirnya ikut langganan dalam rangka penasaran mencari aplikasi paling cocok dengan keluarga kami. Kami ingin menggunakan satu aplikasi untuk setiap pencatatan keuangan (bisnis dan pribadi). Maka pencarian pun dimulai dengna aplikasi yang menyediakan, selain sistem akuntansi, juga pembuatan invoice/ faktur. Hal ini bertujuan untuk menyatukan semua platform keuangan agar lebih mudah terlacak dan tidak perlu menginput secara manual. 

Pros: 
  1. Expense IQ ini tampilannya sangat minimalis. Ini saya masukkan dalam daftar kelebihan karena artinya aplikasi ini tidak berat. Gak bikin kita pusing nungguin aplikasi yang loading. Apalagi kalau signal internet melemah. 
  2. Dapat multi account (multi usaha/ bisnis) 
  3. Terdapat Chart yang bisa diatur harian, mingguan, bulanan, dst. 
  4. Mudah digunakan 
Cons: 
  1. Aplikasi menjadi tidak stabil ketika digunakan oleh dua user. Saya menggunakan satu user account untuk dua hp berbeda (HP saya dan suami) Yang pada akhirnya malah mengacaukan seluruh catatan yang ada. Hal ini dikarenakan data menjadi tumpang tindih, proses upload data yang sudah diperbaharui yang tidak lancar, susah log in, dan pada akhirnya malah data yang sudah dimasukkan tidak tersimpan. KZL 
  2. Tidak ada invoice. Jadi hanya aplikasi akuntansi untuk pencatatan keuangan aja. 

Sebenarnya kekurangannya cuma sedikit. Saya dan suami awalnya sudah merasa cocok dengan aplikasi ini. Tapi ternyata ketika tidak bisa digunakan oleh dua user, kami kebingungan sendiri. karena saya mau input, suami juga sesekali input. Walaupun sempat sepakat juga untuk saya aja yang input dan suami laporan berkala ke saya. Tapi saya yakin pada akhirnya malah cuma bikin bete. Misal karena suami lupa bilang dan saya lupa nanya, akhirnya malah tidak ada yang dicatat. 

Aplikasi ini dapat diunduh di: https://goo.gl/VXAqMN

Bluecoins
Aplikasi ketiga dan terakhir yang saya review hari ini. Ini aplikasi paling cocok buat saya dan suami sampai hari ini. Oh, iya, pada akhirnya kami tidak jadi menyatukan aplikasi untuk keuangan pekerjaan dan keuangan pribadi. Karena ternyata ya memang gak ada. Kalau ada yang invoicenya bagus, biasanya pencatatan keuangannya kurang pas untuk usaha, atau tampilannya kurang menarik, kategorinya kurang lengkap atau apa lah. Sementara kalau yang lengkap dari sisi keuangan, malah invoicenya gak ada, atau themes-nya kurang bagus, atau aplikasi yang berat. 

Makanya sejak itu we are parting ways. Saya bertugas mengatur keuangan pekerjaan dengan aplikasi yang hanya PC friendly. Pada akhirnya saya sadari bahwa semau apa pun saya membuat invoice di HP, pada akhirnya saya harus buka laptop juga. Karena gak efektif di HP. Karena saya harus cek audio yang lebih efektif dilakukan di laptop. Sebenarnya bukan laptopnya sih, tapi butuh headphone dan ruangan yang tenang untuk pengecekan yang maksimal. 

Anyway kembali ke bluecoins. Aplikasi ini saya gunakan sampai hari ini untuk menuliskan catatan keuangan pribadi. Saya langsung masuk ke pros and cons-nya ya.. 
Pros: 
  1. Bisa digunakan oleh lebih dari satu user. Penyimpanan data aplikasi ini ada dicloud maka ketika ada dua user, salah satunya harus off dan mensinkronisasikan dengan user yang sebelumnya membuka aplikasi. Tidak bisa digunakan bersamaan karena khawatir data yang tumpang tindih. 
  2. Aplikasi tidak begitu berat. 
  3. tampilan menarik. 
  4. rincian jelas dan terlihat semua. 
  5. Ada tampilan Chart. 

Cons: 
  1. Tidak bisa digunakan bersamaan karena khawatir ada data yang tumpang tindih, atau data dari salah satu user terhapus karena sinkronisasi bersamaan dengan user lain. 


Untuk menggunakan aplikasi ini dapat diunduh di: https://goo.gl/RCxJGk

Demikian review aplikasi keuangan dari saya. Sebenarnya dalam proses pencarian saya dan suami mengunduh dan menginstal sampai sekitar 15 aplikasi berbeda di HP masing-masing (jadi total ada 30an aplikasi), tapi tiga ini yang lolos dari proses seleksi dan eliminasi. 

Walaupun tetap saja kesuksesan pencatatan keuangan adalah disiplin menuliskan pemasukan dan pengeluaran ke dalam aplikasi. Kalau udah install tapi gak diisi kan sama aja. #ngomongsamadirisendiri #BRBbukaBluecoins

#Tantangan10hari
#level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia

Saturday, February 3, 2018

Aplikasi 1 Audiobuku #level12 Day 1

6:30 PM 0 Comments

Wuah sudah level 12. Semoga bisa konsisten di level 12 ini untuk menulis review 12 website yang mendukung pendidikan keluarga saya. 

Jadi pada dasarnya saya dan suami adalah pasangan milenial. Yang untuk sebagian kebingungan kami browsing untuk mencari jawabannya. Gak melulu googling, bisa pakai Bing, Yahoo dll. Ada banyak sih sebenarnya platform pencarian di dunia maya. Nanti tinggal cocok atau tidak dengan link yang masuk ke platform tersebut. Tapi, untuk hal-hal prinsip kami sudah membentuk filosofi keluarga kami sendiri, sehingga ketika browsing kami gak menelan info Mentah-mentah. Malah mostly sebagai bahan diskusi berdua di rumah. Anak Lanang belum diajak diskusi sih palingan dia ikut menyaksikan diskusi kami sembari dia masyuk dengan aktivitasnya sendiri. Geratakin meja bundanya bisa jadi #tutupmuka

Nah, makanya ketika ada tantangan ini, tadinya saya sok sekali. Hahaha ampun. Anaknya memang songong. 😁 

Saya review satu aplikasi dari Google playstore yah. Nama aplikasinya Audiobuku. Ini aplikasi saya ketahui waktu diskusi di rumbel Menulis IIP Jogja. Saya browsing sih, gara-gara teman-teman rumbel Menulis sedang sharing tentang anaknya yang gaya belajarnya auditori. Waktu itu mengomentari pekerjaan saya sebagai transkriptor (yang memang berurusan dengan audio).

"Mba, kalau transkrip itu apakah saya bisa bikin audiobook juga?" tanya seorang teman yang kebetulan anaknya yang lahir prematur tidak bisa melihat karena ROP. Saya sebelumnya pernah beberapa kalo dengerin audiobook dari novel-novel klasik berbahasa Inggris, tadinya saya pikir sebagai alternatif untuk orang-orang yang gak mendapatkan Hard copy-nya. Karena sudah tidak anak cetak. Ternyata ini metode belajar untuk anak-anak atau orang-orang dengan keterbatasan penglihatan. Jadi saya browsing. 

Dari hasil browsing tersebut malah ada aplikasi audiobuku ini, berbahasa Indonesia pula. Saya senang. 😁 

Saya senang karena bisa saya jadikan salah satu media belajar anak lanang. Saya ingin mengenalkan berbagai media belajar supaya anak lanang gak terpaku pada model visual aja. Karena dari hasil tes gaya belajar, saya VAK, gak ada yang dominan. Sementara abahnya anak lanang dominan visual. Tapi akhir-akhir ini abahnya merasa terjebak dalam judgement visual tersebut. Menurutnya dia bisa mengembangkan gaya belajar lain yang merupakan kelemahannya, tanpa mengabaikan gaya belajar utamanya, tapi yang terjadi adalah dia malah hanya mengembangkan kemampuan visualnya tanpa mengembangkan kemampuan lain. Apalagi sekarang kerja di bidang auditori, dia merasa sebetulnya auditorinya pun kuat. Mungkin kalau terlatih sejak kecil bisa lebih berkembang lagi. 

Anyway, kembali ke audiobuku. Aplikasi ini menyediakan berbagai macam dongeng Indonesia yang dibacakan dengan gaya story telling. Sepertinya sebagian dari cerita atau dongeng di radio yang kemudian disimpan audionya. Ada juga yang memang sengaja dibacakan untuk aplikasi ini. Terutama Buku-buku baru. Iya, kalau dongeng anak memang Buku-buku lama. Rata-rata terbitan dari Kemendikbud. 

Dengan banyak buku terbitan dari Kemendikbud, artinya banyak audiobuku yang gratis. Sementara untuk Buku-buku lainnya berbayar. Satu novel panjang bisa jadi terbagi dalam 5-6 bagian, masing-masing bagian dihargai 5000-10000. 

Pssst, ada novel Siti Nurbaya juga loh. Saya mau baca dari SMP belum kesampaian sampai sekarang. 

Untuk rate-nya saya kasih 8 dari skala 10. Karena untuk audiobuku gratisnya pun oke sekali, diiringi suara latar yang sesuai. Misal malam hari ada suara jangkrik dan tongeret, ada suara petir, nada dan intonasi pengisi suaranya yang sesuai dengan cerita yang disampaikan. Kalau untuk audiobuku yang berbayar saya belum coba dengarkan. Mau menyelesaikan yang gendongan dulu. #eh. 😁 

Untuk aplikasi audiobuku bisa diunduh dari Google Playstore 

Atau dari link berikut https://goo.gl/KJ8D4r

#Tantangan10hari
#level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia