Follow Us @avonturnetwork

Thursday, April 27, 2017

Game Level 4 #GayaBelajar #Day2

10:14 AM 0 Comments

Berniat menyelesaikan tugas kali ini dengan tidak bolong-bolong ternyata sungguh merupakan tantangan tersendiri. Baru hari pertama udah bolos 5 hari. oopsie.. but, let us straight to the point aja ya :') Kali ini saya mau cerita tentang gaya belajar suami.

Pak Suami itu gaya belajarnya visual. Visual banget. Entah berapa nilainya, tapi secara kasat mata memang kelihatan banget kalau gaya belajarnya visual. Dia bahkan pernah bercita-cita kuliah di jurusan font atau warna. Yang memang sangat mengandalkan visualisasi. Kalau saya bertanya "kata roman bagus tidak?" Dia akan menjawab nanti dilihat dulu struktur hurufnya. :')
Dan satu lagi hobinya fotografi dan desain grafis. meluruskan garis yang tidak bengkok di komputer, menyesuaikan warna foto agar lebih tajam, hal-hal yang mostly tidak akan diperhatikan oleh kebanyakan orang, sangat diperhatikan oleh Pak Suami.
Waktu dia sedang berada di dunia font dan warna, setiap hari saya diajak ngobrol tentang dua hal itu. Daaan, saya gak nyambung. Berkali-kali dia komplain karena saya kok gak paham-paham. Padahal ya saya udah berusaha yang terbaik untuk mendengarkan cerita tentang font dan warna yang bukan passion saya. Greget-gemes-sebel kalau dengerin tentang font itu. Karena ada orang dibayar berjuta-juta untuk bisa mendesain satu font yang khas, lalu perbedaan antarfont satu dan font lain itu tidak semuanya nampak kasat mata, dan ragam font itu buanyaaak sekali. Ada font lucu-lucu gaya cewek yang girly banget, ada font yang boyish, ada font yang mringkel-mringkel, ada font yang tegas dan berani, ada font yang unik, dsb. Saya jadi punya gambaran bahwa kita juga harus memperhatikan tentang font kalau sering menulis di komputer, karena ya tulisan tangan kita kan gak dipake. :D
Lately, lagi tertarik fotografi; belajar berbagai teknik foto, settingan untuk kamera di tempat yang gelap (low light) maupun di tempat yang terang, angle pengambilan foto yang menarik, dan beragam kamera dan lensa yang cocok digunakan untuk aktivitas yang berbeda-beda. Saya tenggelam dalam obrolan tentang kamera. Hahaha, awalnya sih masih bisa mengikuti, lama-lama saya hilang arah. Saya bingung saya ada di mana dan sedang membicarakan apa. Saya bukan gak suka fotografi, tapi kamera kan dipegang suami, dia yang senang eksplor, ya saya gak merasa perlu belajar fotografi.
Mungkin nanti, ketika tiba masanya saya bisa main sendiri tanpa ditemani suami, saya merasa perlu mengabadikan momen-momen tertentu, saya baru merasa butuh kamera sendiri. Kalau sekarang orang lebih sering bareng dan perhatian utama kami masih di anak bayi, ya saya pegang kamera hp saja sudah cukup. :)

Kembali ke visual. Jadi karena suami visual banget, kalau sedang mendengarkan ceramah atau cerita dia suka 'hilang'. Dia harus membayangkan yang diceritakan, sementara ketika dia membayangkan, fokusnya tidak bisa pada lanjutan cerita, melainkan pada imajinasinya; jadi dia miss beberapa kalimat atau kata yang diucapkan pembicara. Makanya kalau ada ceramah seringkali dia bawa handycam atau recorder sendiri, "biar bisa didengarkan lagi nanti." katanya. Saya sih diuntungkan juga, karena sejak punya anak ikut acara apa pun gak pernah bisa full perhatian ke acara, pasti lebih banyak gendong anak, nemenin anak main atau menenangkan anak yang cranky karena udah mulai bosan hahaha #momslife

Jadi ya dengan suami yang visual semuanya harus indah dipandang. Dia suka banget komentarin baju saya atau kombinasi baju dan kerudung, susunan rumah harus begini, begitu. kesimpulannya bekerja sama dengan anak visual cukup menyenangkan juga. :D

#IIP
#BundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajar
#Day2
#Visual
#Suami

Thursday, April 20, 2017

Game Level 4 #GayaBelajar #Day1

9:41 AM 0 Comments

Heihoo..
Well liburan berakhir. What?  Liburan macam apa ini? Lebih tepatnya bolosnya berakhir. Saya bolos kuliah Bunsay bulan lalu, bolos mengerjakan tugas. Sungguh saya penat. Anak sakit berhari-hari tidak cukup tidur, saya sendiri sakit tidak selera makan tetapi tetap harus makan untuk memenuhi kebutuhan anak lewat ASI, dan semakin lengkap ketika suami juga sakit. Duh, rasanya pengen menggandakan diri. T_____T
Lalu rindu naik gunung.
Oke cukup perkenalannya, haha. Untuk bulan ini tugasnya mengidentifikasi gaya belajar. Perkuliahan Bunsay ini sebenarnya menyenangkan karena terus ditantang untuk melakukan sesuatu. Masing-masing orang dan keluarga punya gambaran sendiri tentang kehidupan ideal yang ingin dicapainya, tapi kan secara umum ingin melakukan yang terbaik dalam hidup ini. Makanya bergerak maju bersama orang-orang yang mau maju itu menyenangkan. Setuju atau tidak, konten kuliahnya bikin saya pengen baca buku lebih banyak; sebagiannya lagi pengen crosscheck, "Apa iya ya kayak gini?"
Ampun, guru. Saya kira guru-guru di kelas IIP akan senang kok kalau ada mahasiswanya yang mau crosscheck, apalagi sampai mengoreksi. Saya sih masih baca dan manggut-manggut aja.

Hari pertama ini saya mau cerita tentang gaya belajar saya dulu--saya merasa perlu memastikan bahwa saya memahami diri sendiri sebelum berupaya memahami Anak Lanang. Kelas 1 SMA saya pernah dites mengenai gaya belajar ini. Tesnya mengisi kuesioner begitu, tes a la psikologi. Dan hasilnya dari skala 10 nilai saya Kinestetik 8, Visual 8, dan Auditorial 6 atau 7 (saya lupa pastinya). Yang jelas, nilai ketiganya tidak jauh beda.
Guru yang mengetes waktu itu mengatakan kalau saya tipe pembelajar kombinasi, keuntungan bagi saya adalah saya bisa belajar dengan cara apa pun. Maksudnya ketika di satu kelas materinya mendengarkan cerita, saya bisa menikmatinya; ketika materinya menceritakan gambar, saya pun bisa menikmatinya; lalu ketika harus story telling sendiri saya pun bisa menikmatinya (?). Tapi ini membentuk definisi saya tentang belajar; teman-teman SMA saya mengatakan saya gak pernah belajar. Soalnya saya gak pernah mengulang kembali pelajaran di sekolah; saya pilih main; atau rapat organisasi, atau wawancara (baca: nanya-nanya) kepala sekolah; atau nongkrong di warung ngobrolin harga sembako; atau nemenin pembina kos saya ngajar. Saya dulu penat sekolah, makanya sukanya main.

Nah, berkaitan dengan gaya belajar, karena tahu nilai kinestetik saya tinggi, saya coba lah menghafalkan tugas sambil keliling ruangan. Dan hasilnya nihil. Saya merasa gak nambah hafalan, yang ada pegel. Tapi saya ngomong dengan seluruh tubuh, tangan gak berhenti gerak, mencontohkan sesuatu dengan sepenuh hati (baca: menggerakkan seluruh tubuh), saya bermain peran--ini menjadi motivasi saya masuk teater; tapi ternyata saya gak cocok dengan kebiasaan para seniman teater yang seringkali nongkrong lama sambil ngopi dan ngerokok; lalu latihan teater, lalu lanjut lagi ngopi dan ngerokok. Saya gak betah nongkrong.
Turn out saya ini cocoknya menari instead of teater, tapi belum direalisasikan, masih jadi penonton.

Kedua visual, kalau ini kayaknya paling umum; karena ya semua orang belajar dari apa yang dilihatnya. Saya mencatat dalam bentuk mind map, kalau disuruh nulis semua dulu saya pakai pulpen warna-warni karena gak betah kalau hitam aja; atau kalaupun terpaksa hanya hitam, saya buat tebal tipis hurufnya. Tapi saya gak rapi, sama sekali tidak. Saya berantakan dan gak terlalu bermasalah dengan segala sesuatu yang berantakan. Saya berpikir kalau berantakan itu ada seninya tersendiri, seni menemukan barang dalam tumpukan kekacauan :p

Ketiga auditorial, ini yang dulu nilainya paling rendah, tapi saya kira saya memang pendengar yang cukup baik. Geer? Bukan, ini kan belajar memahami diri sendiri. Kepedean? Biarin. *ini becanda ya* saya menerima masukan dan saran kok.
Jaman SMA saya kalau belajar harus dengerin musik---saya mulai belajar waktu kelas 3 mau ujian; eh malah nilai ujian saya jelek. Kalau gak belajar mungkin nilainya lebih baik *kesimpulan macam apa ini?*
Well, tapi saya cukup bagus dalam mendengarkan, artinya saya bisa menikmati berimajinasi walaupun tanpa melihat gambar, saya senang mendengarkan cerita dan bisa memahaminya.

Jadi, saya kira gaya belajar ini penting diketahui orang tua, karena jadi tahu anak ini belajar dengan cara apa. Salah seorang dosen saya pernah cerita kalau anaknya ada dua yang satu anak auditorial yang satu lagi visual; kalau yang auditorial tiap hari pulang sekolah nangis, karena dimarahi guru lantaran tidak paham apa yang dijelaskan di sekolah. Mengetahui anaknya auditorial, ayahnya merangkum pelajaran anaknya dan membacakannya lalu merekamnya, dan didengarkan oleh anaknya. And it works. Perlahan tapi pasti anaknya mulai memahami apa yang sebenarnya dijelaskan oleh gurunya di sekolah.
Tetapi beda dengan saudaranya yang visual; mendengarkan rekaman yang dibuatkan oleh ayahnya, anak ini justru tertawa-tawa kegelian. Katanya, "gak bisa dengar apa-apa, habis geli telinganya." Hahaha, kiddos.
Seberapa penting mengetahui gaya belajar anak? Penting syekaleee
Besok mau cerita tentang gaya belajar suami ah sebelum mengamati Anak Lanang.

#IIP
#IstitiutIbuProfesional
#BundaSayang
#Bunsay
#GameLevel4
#Day1
#GayaBelajar

Wednesday, April 12, 2017

Maaf untuk segala hal yang tertunda

8:31 AM 0 Comments

Saya gagal menuliskan progres proyek keluarga kami. Pasalnya saya benar-benar sedang harus fokus mengurus anak Lanang yang sakit estafet hingga hari ini. Bahkan saya dan suami drop bergantian.

Awalnya membicarakan tentang family project me and my husband dan are so excited. We dreamt to do several project in our life. And suddenly Come little sonshine that obviously attract much of our attention. Our dreams are change. We did not dream about Two anyone, we dreams about three. 

Project kami bertema move. Dan akan kami mulai dengan bergerak melakukan Work out setiap hari dan memulai gaya hidup sehat. Walaupun sebenarnya healthy eating sudah mulai kami praktikkan sejak anak Lanang mulai MPASI. But we need to move, to excercise. Untuk jangka panjang, kami memang berencana melakukan perjalanan--bukan untuk mencari kitab suci tapi untuk belajar. Detailnya masih rahasia. Hahaha.

Tapi rencana tinggal rencana. Sampai hari ini saya baru mulai Work out beberapa kali. Karena anak Lanang sakit T_____T

Sejak 24 Maret demam naik turun diiringi pilek dan batuk, sempat sembuh beberapa hari lalu kembali demam yang mungkin dikarenakan tumbuh gigi dan malam ini kembali demam diiringi pilek dan sedikit batuk. Project saya beralih membujuk anak Lanang supaya mau makan. Huhu makannya susah sekali. *tear*

Doakan anak Lanang segera sembuh dan we Will go back on the track. 

#IIP
#aliranrasa
#familyproject
#bunsay
#bundasayang