Berniat menyelesaikan tugas kali ini dengan tidak bolong-bolong ternyata sungguh merupakan tantangan tersendiri. Baru hari pertama udah bolos 5 hari. oopsie.. but, let us straight to the point aja ya :') Kali ini saya mau cerita tentang gaya belajar suami.
Pak Suami itu gaya belajarnya visual. Visual banget. Entah berapa nilainya, tapi secara kasat mata memang kelihatan banget kalau gaya belajarnya visual. Dia bahkan pernah bercita-cita kuliah di jurusan font atau warna. Yang memang sangat mengandalkan visualisasi. Kalau saya bertanya "kata roman bagus tidak?" Dia akan menjawab nanti dilihat dulu struktur hurufnya. :')
Dan satu lagi hobinya fotografi dan desain grafis. meluruskan garis yang tidak bengkok di komputer, menyesuaikan warna foto agar lebih tajam, hal-hal yang mostly tidak akan diperhatikan oleh kebanyakan orang, sangat diperhatikan oleh Pak Suami.
Waktu dia sedang berada di dunia font dan warna, setiap hari saya diajak ngobrol tentang dua hal itu. Daaan, saya gak nyambung. Berkali-kali dia komplain karena saya kok gak paham-paham. Padahal ya saya udah berusaha yang terbaik untuk mendengarkan cerita tentang font dan warna yang bukan passion saya. Greget-gemes-sebel kalau dengerin tentang font itu. Karena ada orang dibayar berjuta-juta untuk bisa mendesain satu font yang khas, lalu perbedaan antarfont satu dan font lain itu tidak semuanya nampak kasat mata, dan ragam font itu buanyaaak sekali. Ada font lucu-lucu gaya cewek yang girly banget, ada font yang boyish, ada font yang mringkel-mringkel, ada font yang tegas dan berani, ada font yang unik, dsb. Saya jadi punya gambaran bahwa kita juga harus memperhatikan tentang font kalau sering menulis di komputer, karena ya tulisan tangan kita kan gak dipake. :D
Lately, lagi tertarik fotografi; belajar berbagai teknik foto, settingan untuk kamera di tempat yang gelap (low light) maupun di tempat yang terang, angle pengambilan foto yang menarik, dan beragam kamera dan lensa yang cocok digunakan untuk aktivitas yang berbeda-beda. Saya tenggelam dalam obrolan tentang kamera. Hahaha, awalnya sih masih bisa mengikuti, lama-lama saya hilang arah. Saya bingung saya ada di mana dan sedang membicarakan apa. Saya bukan gak suka fotografi, tapi kamera kan dipegang suami, dia yang senang eksplor, ya saya gak merasa perlu belajar fotografi.
Mungkin nanti, ketika tiba masanya saya bisa main sendiri tanpa ditemani suami, saya merasa perlu mengabadikan momen-momen tertentu, saya baru merasa butuh kamera sendiri. Kalau sekarang orang lebih sering bareng dan perhatian utama kami masih di anak bayi, ya saya pegang kamera hp saja sudah cukup. :)
Kembali ke visual. Jadi karena suami visual banget, kalau sedang mendengarkan ceramah atau cerita dia suka 'hilang'. Dia harus membayangkan yang diceritakan, sementara ketika dia membayangkan, fokusnya tidak bisa pada lanjutan cerita, melainkan pada imajinasinya; jadi dia miss beberapa kalimat atau kata yang diucapkan pembicara. Makanya kalau ada ceramah seringkali dia bawa handycam atau recorder sendiri, "biar bisa didengarkan lagi nanti." katanya. Saya sih diuntungkan juga, karena sejak punya anak ikut acara apa pun gak pernah bisa full perhatian ke acara, pasti lebih banyak gendong anak, nemenin anak main atau menenangkan anak yang cranky karena udah mulai bosan hahaha #momslife
Jadi ya dengan suami yang visual semuanya harus indah dipandang. Dia suka banget komentarin baju saya atau kombinasi baju dan kerudung, susunan rumah harus begini, begitu. kesimpulannya bekerja sama dengan anak visual cukup menyenangkan juga. :D
#IIP
#BundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajar
#Day2
#Visual
#Suami
No comments:
Post a Comment