Follow Us @avonturnetwork

Monday, February 27, 2017

Mi Goreng Pertama

7:35 AM 0 Comments
Anak bayi melewati perkembangan yang luar biasa. Hari ini untuk pertama kalinya saya berani kasih Anak Lanang mi goreng. Tanpa gula dan garam tentunya. Menu kali ini saya samakan dengan menu simbok dan abahnya. Mi gorengnya dipadukan dengan kol, wortel, tomat dan cabe--punya Anak Lanang tanpa cabe. Daaan, ternyata Anak Lanang berhasil makan mie dengan lahapnya. Tanpa tersedak #yeaaay..

Teringat orang tua saya, kalau anak kecil mau makan mi sendiri, dipotong-potong sampai gak berbentuk mi. Padahal kenikmatan mi itu kan ada pada panjangnya itu, kalau gak panjang namanya apa dong? Hahaha.. Saya sengaja memberikan berbagai macam tekstur, bentuk, jenis makanan pada si Anak Lanang agar dia terbiasa kalau nanti diajak ngalam bisa makan berbagai macam makanan tanpa pilih-pilih. Itu sih harapan Simbok. Kalau nyatanya dia mau jadi anak yang pemilih dalam hal makan ya Simbok nerimo, tapi latihan makan berbagai macam makanan dulu ya sekarang mumpung belum menentukan sendiri #hihi

Sejak umur 6 bulan Anak Lanang sudah latihan makan sendiri. Bukan saya yang mau dia makan sendiri, tapi memang saya mengikuti kemauan dia untuk makan sendiri. Awal MPASI saya tawarkan semua jenis dan tekstur makanan, mulai dari bubur, nasi tim, sampai finger food. Anak Lanang milihnya finger food, kalau dikasih bubur, tangannya maunya pegang makanan habis itu kibas-kibas--mungkin risih karena buburnya lengket. Jadi habis itu simbok berinovasi di dapur--turun ke dapurnya baru setelah punya anak -____-

Karena memilih makan sendiri--dan saya anggap itu mengikuti kemauan bayi (baby led)--maka saya menuruti kemauannya. Saya kenalkan berbagai macam sayuran, protein: hewani dan nabati; karbohidrat, lemak tambahan, dan lain-lain. Pada akhirnya saya sendiri ternyata yang mendapat keuntungan: ketika anak makan Simbok gak disibukkan dengan menyuapi, tapi sibuk makan sendiri. Ternyata anak bayi makan sendiri gak semengerikan itu :)

Monday, February 20, 2017

Reminder for Life

10:44 PM 0 Comments
It is difficult to bear the sight of all the injustices of this world. But this earthly world will disappear anyway, and the most important thing is always spiritual life; if we cannot change the world around us, we can at least change ourselves. The essential teaching of every true religion is that this world of vanishing phenomena is unreal like a dream and that the unseen world of the Great Spirit is real. There are many degrees in the Unseen, but I just want to point out that there is more reality in the Unseen above than on this visible earth, and that God alone is absolute Reality.

~Frithjof Schuon
Sun Feather

Friday, February 17, 2017

Excuse

3:00 AM 0 Comments
Well saya pada akhirnya menulis juga. Saya member IIP yang membandel di tugas pertama ini. Saya tidak mengerjakan satu pun challenge 10 hari komunikasi produktif yang ditugaskan oleh para Fasilitator IIP. #badstudent.
Kalau ditanya apa alasannya? Saya punya daftar panjang alasan yang bisa disebutkan. Tapi masa iya mau disebutkan semuanya. hahaha saya pilih tiga alasan aja yah
Alasan pertama sih karena saya baru beradaptasi dengan HP baru. (Pamer HP baru, Mba? :p) Enggak kok, HP lama saya Bl*ckb**ry dengan OS BB10 tidak lagi di-support oleh Whatsapp, Iya aplikasi utama yang digunakan dalam perkuliahan IIP. Jadi mau gak mau saya ganti HP. Ganti HP-nya pun last minute banget, mungkin sekitar 1 minggu sebelum kelas dimulai. Karena ya tabungan belum penuh, belum boleh dipecah. Terus drama karena biasa pakai HP dengan keypad, berganti hp touchscreen sepenuhnya; gak bisa ngetik boooo’. Terus masih gaptek peralihan fitur dari BB10 ke Android.
Lalu Bapak saya sakit T____T, komplikasi pula DBD dan Hepatitis A. Saya jadi bolak-balik rumah Bapak dan rumah saya, ketika Bapak rawat inap di RS pun menginap di rumah Bapak untuk menyiapkan kebutuhan Bapak dan Ibu yang menemani di RS. Pikiran saya teralihkan semuanya dari dunia peronline-an. jaraaang sekali sentuh HP. Mana saya tetap harus bolak-balik untuk memenuhi kebutuhan suami yang ditinggal di rumah sendirian.
Terakhir pekerjaan. Saya dan suami memang kerja sendiri di rumah dengan bantuan beberapa orang tim yang sebagian online serta ada pula tim offline yang tiap hari kami temui. Masalah utamanya, editor kami memutuskan resign. Dulu sebelum saya melahirkan, saya pun editor utama di usaha kami. Tapi sejak melahirkan, baby boy comes first, everything else come second. Jadi saya bekerja hanya 2 jam maksimal dalam sehari. Itu pun kalau gak ketiduran pas menyusui di malam hari :D
Sejak deadline bertumpuk, editor hanya satu yaitu Pak Suami, saya mau gak mau harus turun tangan. Karena ya profesionalitas kami dipertaruhkan. Ya saya mulai BEGADANG lagi untuk kembali bekerja. Kenapa begadang? karena ya the only time I can do my job is while my baby boy sleep. And he could sleep longer only at night. Kalau siang, paling kan 1-1,5 jam. Sementara saya juga perlu menyiapkan makanan saya dan suami, makanan baby boy, beres-beres rumah dsb.
Udah sih, itu aja alasan utamanya. Saya jadi gak fokus mau belajar. jangankan belajar, saya bisa mandi dan makan aja udah syukur. Karena memang beberapa minggu ini minggu terberat bagi saya. Belum adaptasi dengan pembagian waktu, pembagian tugas, pembagian tenaga, koordinasi dengan suami, belum lagi istirahat yang sangat terganggu. Saya masih berdoa supaya ini tidak berefek pada kesehatan emosi saya.

Ini saya udah sangat butuh recharge. Satu hari day off dari tugas-tugas yang membelenggu tampaknya akan jadi kemewahan bagi saya.
 
#IIP #InstitutIbuProfesional #BundaSayang #KomunikasiProduktif