Follow Us @avonturnetwork

Wednesday, December 13, 2017

Kisah motor yang kehujanan

9:00 AM 0 Comments
Malam ini tiba-tiba hujan turun deras. Tidak ada gemuruh ataupun angin, sementara motor masih di luar. Akhirnya Nak Lanang yang baru bersiap tidur, saya ajak keluar. Karena abahnya tampaknya tidak sadar kalau di luar mulai hujan.
Kami ke ruangan samping, ruang kerja abahnya, memberitahunya bahwa hujan turun dan motor belum dimasukkan. Akhirnya malam itu kami bertiga membilas motor dengan air keran lalu memasukkan motor.

Menjelang tidur, saya ceritakan kisah motor yang kehujanan tadi kepada Nak Lanang, ia tertawa kegirangan teringat diperbolehkan main air malam-malam. Nak Lanang senang, simbok pun bahagia.

Bahagia kita sesederhana menertawakan motor yang kehujanan ya :D

Tuesday, December 12, 2017

Dongeng Malam

9:13 PM 0 Comments
Malam ini seperti tidak seperti malam-malam sebelumnya ketika hujan turun lebat atau gerimis yang menyebabkan malam terasa begitu dingin. Kami--saya, Nak Lanang dan abahnya, memutuskan untuk menikmati malam sambil jalan-jalan keluar rumah. Gak jauh-jauh sih pastinya, hanya berkeliling sekitar rumah, supaya Anak Lanang terpuaskan rasa penasarannya. Karena dia gak betah di dalam rumah. Kesibukannya kurang sepertinya, makanya selalu ngajak keluar.

Karena simboknya sendiri masih hectic dengan beberapa urusan, makanya belum bisa menyiapkan aktivitas indoor lagi. Jadi ya saya menemaninya aktivitas outdoor aja. Berjalan-jalan, bermain dengan kucing, ayam atau burung milik tetangga, meniti tepian selokan, berkejaran di ujung jalanan yang gelap berbatu. Ternyata lumayan juga untuk quality time. Nak Lanang senang bukan kepalang, Simboknya yang kelelahan mengejar-ngejar.

Paling tidak malam ini kami tidur dengan nyenyak.
Ini ceritaku, mana ceritamu?

Sunday, December 10, 2017

Mengetik

9:00 PM 0 Comments
Nak Lanang senang sekali memperhatikan saya mengetik di depan komputer. Pertama karena memang dia penasaran dengan laptop yang bisa dibuka tutup, lalu keyboard yang bisa ditekan-tekan. Walaupun dia belum paham bahwa konsekuensi dari penekanan keyboard berpengaruh pada komputer itu sendiri, bahwa menekan keyboard tulisannya bisa sampai ke layar, dsb. Biasanya dia akan memencet beberapa keyboard sekaligus sehingga fungsi shortcut-nya bekerja. Alhasil saya kelabakan sendiri mau meng-lock windowsnya. hahaha

Tapi kalau di depan komputer, Nak Lanang pasti tampak sangat serius, memperhatikan layar, jemari di keyboard dan tampak mengetikkan sesuatu, walaupun gak ada apa-apa sih. Ditambah sesekali menggerakkan dan menekan mouse. Oh, my dia benar-benar mengamati apa yang saya lakukan di depan laptop. T____T

Antara mau nangis atau senang. Senang karena ini anak perhatian sekali terhadap hal-hal detail yang menarik perhatiannya, termasuk gaya dan ekspresi saya ketika mengetik.
Mau nangisnya karena masih bayi kok ya udah paham bahwa di depan komputer bisa melakukan sesuatu.
Ya memang gak bisa dipungkiri bahwa pekerjaan kedua orang tuanya yang mengharuskan duduk di depan laptop/ komputer cepat atau lambat akan memberikan pengaruh pada Nak Lanang. Tapi saya tidak siap dengan pengaruh yang secepat ini. Ini gimana sih caranya pause biar Nak Lanang gak paham dulu tentang komputer.

Keputusan untuk kerja di rumah biar fleksibel antara waktu kerja dan waktu untuk nemenin Nak Lanang main jadi saya pertanyakan lagi nih. Walaupun saya sendiri cenderung merasa ini keputusan yang tepat, karena ya saya bisa full time bareng Nak Lanang. Kalaupun bukan saya yang menemaninya, abahnya sendiri yang turun tangan. Jadi sama sekali bukan orang lain yang dititipi.
Ya begitulah suka duka kerja online di rumah.

Friday, December 8, 2017

Cerita si Air

7:00 AM 0 Comments
Anak Lanang hobi sekali main air. Well sepertinya semua anak seumurannya senang dengan air. Walaupun kalau disiram air dingin masih kabur dan kedinginan. Tapi kalau main air sampai bibirnya biru pun mereka tetap senang bermain dengan air.

Semalam kami membaca dongeng tentang sungai. Sebenarnya itu dongeng petualangan anak anjing, tapi saya menggarisbawahi asal usul sungai. Jadinya esok harinya kami berjalan menelusuri sungai. Gak jauh-jauh karena Nak Lanang pasti akan minta gendong, tapi ya paling tidak dia mengetahui bahwa sungai ini berasal dari sana, lalu sampai ke dekat rumah ini. Belum yang jauh sampai ke hulu sungai di lereng gunung Sumbing sana. Haha

Dan sebagai hadiahnya, Nak Lanang boleh main air di sungai, sebentar. karena saya yang kedinginan. Brrr..

Thursday, December 7, 2017

Dongeng Ayah dan Anak Lelakinya

6:00 AM 0 Comments
Nak Lanang senang sekali main dengan abah di halaman rumah, main cangkul, cabut rumput dan diakhiri dengan cuci tangan dan kaki yang artinya main air. 😀 
Makanya suatu siang sebelum tidur, saya ajak cerita tentang ayah dan anak lelakinya. 
Sang ayah senang mengajak anak lelakinya bermain dengan cangkul, mereka membersihkan rumput liar di halaman, lalu mencangkul tanah agar gembur. Setelah itu tanah siap ditanami dengan tanaman yang baru. Lalu tanaman yang baru ditanam akan tumbuh subur hanya jika disiram dengan air secara rutin. Tanaman tumbuh subur, berbuah dan berbunga. 😃

Anak Lanang senang saya ceritakan, karena itu merupakan cerita tentang dirinya sendiri. Sambil belajar bertanam. 

Wednesday, December 6, 2017

Dongeng Anak Anjing

8:00 AM 0 Comments
Di rumah kakek-nenek Nak Lanang, banyak tetangga yang memiliki anjing. Samping kiri, depan rumah, belakang rumah dan keluarga di ujung gang yang memiliki beberapa ekor anjing. Tetangga depan, samping dan belakang, anjingnya dikurung di dalam halaman, sementara tetangga di ujung gang, anjingnya berkeliaran dengan bebas di sekitar rumahnya, kadang anjing-anjing itu "nongkrong" di makam--tempat Nak Lanang juga biasa main. 
Saya tadinya bermaksud mendongengi tentang anjing, tapi tampaknya Nak Lanang lebih penasaran melihat anjingnya secara langsung, akhirnya saya ajak kenalan dengan main ke rumah tetangga samping rumah. Nak Lanang menangis karena gonggongan anjing tersebut sangat keras di dalam rumah. Walaupun dia gak mau diajak keluar lagi. Malah mau duduk, tapi gak mau dekat anjing. Akhirnya anjing besar dimasukkan kamar. Lalu turun lah anjing-anjing kecil yang lucu-lucu..
Nak Lanang belum mau memegangnya sih, tapi mungkin dia mulai beradaptasi dengan hewan bernama anjing. 

Kita nanti kenalan dengan berbagai hewan ya, Nak 

Tuesday, December 5, 2017

Semut yang bergotong royong

8:30 AM 0 Comments
Hari ini kaki Nak Lanang digigit semut, ia nangis-nangis sampai cukup lama. Lalu memukul-mukul semut di sekitarnya. Akhirnya saya ajak dia menelusuri ke mana semut itu pergi dan apa yang mereka lakukan. 

Lalu saya ceritakan bahwa semut tersebut pergi untuk mencari makan untuk kelompoknya, bersama-sama, lalu nanti berbaris membawa makanan tersebut pulang ke rumah untuk dimakan oleh keluarganya yang lain. Semut mencari makan bergotong royong agar semua anggota keluarganya dapat makan makanan yang sama dengan mereka, dan telur dan bayi semut dapat mentas dan tumbuh dengan baik. Selain itu mereka juga bersama-sama membangun sarang jika sarang mereka rusak. 

Monday, December 4, 2017

Kasta dan Ilmu

6:00 AM 0 Comments
Banyak orang, termasuk saya, seringkali berpikir tentang keadilan bagi kemanusiaan adalah dengan memeperlakukan semua manusia setara, pada posisi yang sama. Ada forma ada substansi, ketika membicarakan perbedaan, biasanya hal tersebut ada di level forma, bentuk. Segala sesuatu yang berbentuk memiliki perbedaan, tidak bisa kita katakan sama. Saya ingat tentang sistem kasta dalam agama Hindu. 

Sejak ribuan tahun lalu agama Hindu sudah menerapkan sistem kasta. Kasta ini ada empat: Brahmana, Ksatria, Vaisya dan Sudra. Saya dari dulu beranggapan  ada kasta tertinggi dan ada kasta terendah, konsekuensinya, kasta terendah harus mematuhi apa-apa yang diperintahkan kasta tertinggi. Yang terendah ini kasta Sudra, kastanya para budak. Begitu orang menyebut. Menyiratkan bahwa orang-orang yang masuk di kasta itu adalah orang-orang yang rendah dalam level sosial. Dan hal ini memang terjadi di India. Gandhi menyebutnya penyimpangan. 

Mahatma Gandhi adalah seorang penggerak kemerdekaan India dengan membawa prinsip ajaran Hindu ahimsa (nonviolence--tanpa kekerasan), dalam perjuangannya Gandhi menyerukan kepada para pengikutnya untuk tidak membalas perlakuan kasar seperti apa pun. Termasuk jika perlakuan tersebut menyakiti mereka (pengikutnya). Karena ketika kita membalas, kita tak ada bedanya dengan mereka yang melakukan kekerasan. 

Kembali ke sistem kasta. Gandhi mengkritik penyebutan kasta, karena kata kasta sendiri bukan dari bahasa Sansekerta, melainkan Portugis, dan tentunya kata kasta tidak terdapat dalam kitab suci agama Hindu. Dalam kitab Bhagavad Gita, disebut dengan Varna, ada Varna Brahmana, Ksatria, Vaisya dan Sudra. Brahmana adalah para wakil Tuhan untuk membimbing manusia menuju Dia, terdiri dari para nabi, wali, ulama, kyai dan sebagainya. Orang-orang yang sepenuh hati menghidupkan ajaran Tuhan di muka bumi dan dengan welas asih membimbing manusia untuk kembali ke jalan yang benar. Kedua adalah Ksatria, adalah para pelindung. Yakni orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk melindungi orang lain, berjuang untuk orang lain, atau membela negara, membela tanah kelahirannya dsb. Kalau zaman sekarang orang-orang yang tergabung dalam kepolisian, tentara, mungkin juga satpam dan hansip. Ketiga Vaisya adalah para pedagang, mereka menjual sesuatu untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Termasuk juga petani yang menghasilkan bahan pokok makanan bagi manusia. Sekarang perdagangan banyak sekali bentuknya, termasuk berdagang jasa, berdagang barang-barang elektronik, pakaian, dsb. Tidak melulu toko kelontong, hahaha. Terakhir adalah Varna Sudra. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keahlian di bidang teknis dan spesifik. Misal ahli komputer, ahli internet, ahli memasak, ahli membuat kerupuk, ahli memasang atap, ahli membuat lemari, dsb.  

Kalau membaca definisi kasta semacam ini, adanya sistem kasta itu seperti keniscayaan. Artinya setiap manusia lahir dengan perbedaan dan kecenderungan terhadap sesuatu. Seperti baca tes bakat, saya ini seorang arranger, commander, server, atau yang lainnya. Bahwa seseorang terlahir dengan peran tertentu yang akan dia lakukan dengan senang dan sepenuh hati. 

Menurut Gandhi Varna ini bersifat horizontal, bukan vertikal. Maka ketika masyarkat modern menempatkan satu kasta lebih tinggi dibandingkan kasta yang lain, Gandhi mulai menyerukan kritiknya. Menurutnya sistem kasta yang berlaku dalam masyarakat modern sudah tidak ada kaitannya dengan agama lagi.  Gandhi meyakini varna yang berbasiskan pada pekerjaan turun temurun, varna adalah empat tanda pekerjaan alam semesta, menyampaikan ilmu pengetahuan, membela yang lemah, berdagang dan bertani, dan memberikan pelayanan kepada orang lain dengan memberikan kemampuan fisiknya. 

Seiring dengan peralihan penyebutan varna menjadi kasta, manusia modern pun kehilangan makna sebenarnya. Kasta tidak lagi bersifat horizontal, melainkan vertikal. Maka masih menurut Gandhi, tatanan sosial masyarakat berubah, hanya ada satu kasta yang eksis, yakni kasta Sudra. Semua orang dituntut untuk memiliki keahlian spesifik dalam bidang tertentu untuk dapat bekerja di dunia modern. Ada kemudian profesi ahli mesin traktor, ahli mesin-mesin besar di pabrik, ada pula ahli kimia lingkungan, kimia pangan, atau kimia industri, biologi kelautan, biologi kelautan spesifikasi crustacea, dsb. Jauh lebih spesifik dibandingkan dengan kelasifikasi ilmu zaman dahulu. 

Kita sebut saja Ibnu Sina dikenal sebagai seorang filsuf di abad 11 M. Selain seorang filsuf Ibnu Sina juga menulis tentang kedokteran (Qanun fit-thib-- The Canon of Medicine) yang digunakan sebagai text book kedokteran di abad 18, juga seorang saintis yang menulis buku-buku di berbagai bidang mulai dari fisika, astronomi, kimia, geografi, geologi, psikologi, matematika, dsb. Belum lagi beliau juga seorang ulama Islam, yang menulis tentang teologi (ketuhanan). 

Atau Alfarabi juga dikenal sebagai salah seorang filsuf muslim di abad 10, menulis berbagai kitab di bidang Metafisika, logika, musik, filsafat politik, sains, etika, dsb. Al Kindi, yang hidup di abad 9, juga seorang ilmuwan matematika, fisika, kimia, psikologi, farmakologi, kesehatan, metafisika, kosmologi, astrologi, teori musik, ilmu kalam (teologi Islam). Atau kita kembalikan ke zaman Yunani, Aristoteles yang hidup sekitar 300 tahun SM. Adalah seorang filsuf yang pemikiran menginspirasi banyak sekali filsuf muslim, juga seorang ahli biologi, ahli zoologi, fisika, metafisika, logika, juga politik dan pemerintahan. 


Ini menyadarkan saya bahwa kemampuan manusia untuk belajar dan mengkaji ilmu sebenarnya tidak memiliki batasan. Kecintaan akan ilmu membimbing manusia untuk terus mencari dan berupaya memahami berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Ingat ayat al-Quran pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Iqra'. Bacalah. Bagi saya upaya berbagai ilmuwan baik Islam, Yunani, Barat, adalah upaya nyata membaca; Membaca Alam Raya dan meraih ilmu-Nya. 

Sunday, December 3, 2017

Tentang Burung dan Kelinci

3:35 PM 0 Comments
Dulu saya pernah membelikan boardbook untuk anak Lanang dari seri Halo Balita, judulnya 
Tapi setiap saya bacakan, anak Lanang belum bisa fokus pada ceritanya jadi biasanya dia main bolak-balik buku saja. Karena dia sedang senang melihat berbagai jenis burung di sangkar dan di buku tersebut ada beberapa gambar burung, akhirnya kita mulai petualangan bersama burung biru tersebut. Burungya bernama Loui, tadinya dari bluei, tapi lebih lucu disebut loui. *haha* 
Oke, gara-gara loui setiap Nak Lanang ketemu burung selalu menunjuk ke atas, terbang.. 
karena loui ada di atas pohon. 

Well, kita belajar mengenal hewan ya.. 

Friday, December 1, 2017

Tentang Mendongeng

7:00 AM 0 Comments
Beberapa waktu lalu, saya asyik mengikuti berbagai penjelasan tentang dongeng di sebuah grup facebook tentang mendongeng. Sudah lama saya tertarik pada mendongeng karena ya anak lanang tampaknya butuh selalu didongengi. Tapi sayanya suka kurang kreatif dalam hal dongeng mendongeng. Terutama sih mencari  kisah menarik untuk diceritakan pada anak.
Sampai hari Minggu 12 November ada acara dongeng di Jogja. Tapi saya gak bisa datang karena di Temanggung hujan deras. Plus memang lokasi yang terlalu jauh jadi riskan kalau hujan-hujanan sama nak Lanang.
Eh, kebetulan sekali tantangan level 10-nya tentang mendongeng. Saya jadi semangat lagi mencari tau tentang bagaimana cara mendongengkan cerita, bagaimana mengarang cerita, dan karena biasanya cerita yang paling kena itu adalah yang sesuai dengan kondisi si anak, maka saya harus jauh lebih peka dengan berbagai kebutuhan nak Lanang.
Ini rasanya seperti semesta mendukung saya untuk memperlajari lebih dalam tentang dongeng. Akhirnya saya berselancar di dunia maya untuk mencari cara-cara membuat cerita dan menceritakannya dengan menarik. Ya, saya setidakkreatif itu. Makanya perlu belajar banyak biar bisa mendongeng dengan menarik dan interaktif. Saya pun mengunduh berbagai cerita sederhana untuk bekal awal. Saya pikir nantinya saya akan bisa mengarang sendiri ceritanya, tapi sambil cari inspirasi atau ketika gak benar-benar ada untuk diceritakan, saya akan mengambil cerita dari buku-buku dongeng klasik macam Aesop's Fable, atau kisah Nasredin dan Abu Nawas atau kisah-kisah penuh hikmah lainnya.
Terus saya juga menonton beberapa kuliah di youtube tentang cara-cara mendongeng untuk toddler. Wish me luck this time _/|\_

#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

Sunday, November 26, 2017

Resensi Novel To Kill a Mockingbird: Sebuah Novel tentang Kasih Sayang dan Prasangka

11:58 AM 0 Comments

Oleh: Fathimah Albatul
To Kill a Mockingbird membawa Harper Lee memenangkan Pulitzer Prize dan menjadi salah satu literatur Amerika klasik modern. Diterbitkan tahun 1960 dan kemudian diangkat ke layar lebar di tahun 1962. Saya sendiri belum menonton filmnya. Perlu mempersiapkan mental untuk menonton film lama. Beradaptasi dengan pola penyutradaraan dan gaya cerita (yang biasanya) lebih lambat dibandingkan film-film zaman now. Ditambah lagi belum berwarna. Eh, filmnya pun belum punya. :D
Ini adalah salah satu di antara sedikit sekali novel yang saya baca lebih dari satu kali. Biasanya saya malas untuk baca ulang sebuah novel karena berpikir lebih baik membaca yang lain yang belum dibaca. Biasanya buku ada banyak, tapi gak dibaca-baca.
Pertama kali saya membaca novel ini waktu saya masih SMA. Pinjam milik sahabat saya.. Dan I'm truly moving by this novel. Waktu itu perhatian utama saya pada Atticus Finch, ayah dari tokoh utama--Scout. Betapa Atticus berani mengambil risiko mempertaruhkan namanya dengan membela seorang buruh kapas berkulit hitam. Membela kemanusiaan dan kesetaraan yang selama ini dijunjungnya, prinsip hidupnya. Tetapi kali kedua membaca di usia berbeda, dengan kesadaran berbeda, kondisi berbeda--sekarang sudah beranak satu--gaya hidup dan cara pandang berbeda, membuat saya memiliki sudut pandang yang berbeda pula terhadap novel ini. 
Dulu sepertinya saya menginginkan masa kecil seperti Scout Finch dan Jeremy Finch yang bebas berkeliaran sepanjang hari, bermain dari satu rumah tetangga ke rumah tetangga lain, memiliki petualangan-petualangan seru yang menyenangkan. Tapi kali ini saya merasa, "Ini petualangan anak-anak banget ya.." OMG, I feel so old. >.<
Pelajaran yang berhasil saya petik dari novel ini setelah berhasil membaca kedua kalinya adalah bahwa kebenaran itu bergradasi dan orang akan mempersepsi kebenaran sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing.
Ada satu bagian dari novel ini yang menurut saya menceritakan tentang gradasi kebenaran. Pertama adalah Scout menceritakan kepada Atticus bahwa para penduduk Maycomb County lainnya memandang apa yang dilakukan oleh Atticus itu salah, membela orang kulit hitam. Jawaban Atticus adalah, "Bisa saja mereka benar dengan pendapatnya itu. Tetapi aku memegang kebenaran yang aku yakini. Bahwa dengan membela Tom Robbinson, aku sedang membela kemanusiaan." 
Hanya Tuhan satu-satunya kebenaran mutlak, dan karenanya segala sesuatu yang bahkan ketika hal tersebut disandarkan pada Tuhan pun merupakan kebenaran relatif. (Ini sih nanti bakal ngomongin agama ya kalau begini, haha). Makanya dalam satu agama sekalipun akan ada perbedaan pendapat terkait penentuan praktik hukum, sementara prinsipnya bisa jadi tetap sama. Belum lagi kalau gradasi kebenaran dalam agama yang berbeda. Karenanya bagi saya, “yakini dan jalani yang kita yakini sepenuh hati.” Ini tentunya setelah melewati proses pencarian ya..
Penekanan pada moralitas manusia yang tidak ditentukan oleh tindakan kebanyakan orang, melainkan oleh kata hati; merupakan pelajaran lain yang berhasil saya petik. Seringkali kita mengikuti tatanan yang salah di masyarakat. Misalnya saja dalam pengasuhan bayi baru lahir di mana orang tua mengajurkan dan melaran A-Z. Tetapi ketika hal tersebut ditelaah oleh para ahli; baik itu ahli kedokteran anak ataupun ahli psikologi, hal tersebut tidak tepat.
Atticus Finch mendobrak tatanan moral masyarakat Amerika di tahun 1930-an. Ketika orang-orang kulit putih selalu berkedudukan lebih tingi dibandingkan orang-orang kulit hitam. Bagi mereka saat itu, hal tersebut adalah lumrah, dan begitulah seharusnya. Namun tidak bagi Atticus Finch. Orang kulit putih dan kulit hitam tetap sama di mata hukum. Menggunakan norma yang berlaku saat itu, artinya hukum selalu bisa berat sebelah. Ketika orang kulit putih berkonflik dengan orang kulit hitam, maka orang kulit hitam selalu salah. Bagaimana pun kondisinya, bagaimana pun kebenarannya, sekuat apa pun buktinya. Dan hal itu terjadi pula pada klien Atticus yang ditunjuk oleh Hakim Wilayah, kekalahan di hadapan para juri yang semuanya adalah kulit putih. Tetapi Atticus menunjukkan bahwa siapa pun itu, berhak mendapatkan pembelaan di mata hukum.
Satu hal lagi adalah bahwa kita tidak punya hak untuk menilai orang lain berdasarkan apa yang kita lihat. Mrs. Dubose adalah seorang perempuan tua yang seringkali berteriak dan mencaci maki Scout dan Jem terkait dengan pembelaan ayah mereka terhadap orang kulit hitam. Akan tetapi, di akhir hayat Mrs. Dubose, Jem Finch terikat dengan kewajiban untuk membacakan buku untuknya. Mrs. Dubose berupaya melepaskan diri dari jerat candu morfin yang selama ini merantainya. Nenek tua pemarah itu memenangkan pertarungan melawan musuh terbesarnya.
Novel ini berisi pelajaran moral yang sangat kompleks tapi dikemas dari sudut pandang seorang anak 8 tahun. Harper Lee berhasil menggambarkan bagaimana kompleksitas pemikiran seorang anak 8 tahun dalam memandang permasalahan orang dewasa di sekitarnya. Pelajaran moral yang terkandung di dalamnya memang tak lekang oleh waktu. Tak heran bila dimasukkan dalam daftar living books dan buku-buku layak baca. ♥ 

Thursday, April 27, 2017

Game Level 4 #GayaBelajar #Day2

10:14 AM 0 Comments

Berniat menyelesaikan tugas kali ini dengan tidak bolong-bolong ternyata sungguh merupakan tantangan tersendiri. Baru hari pertama udah bolos 5 hari. oopsie.. but, let us straight to the point aja ya :') Kali ini saya mau cerita tentang gaya belajar suami.

Pak Suami itu gaya belajarnya visual. Visual banget. Entah berapa nilainya, tapi secara kasat mata memang kelihatan banget kalau gaya belajarnya visual. Dia bahkan pernah bercita-cita kuliah di jurusan font atau warna. Yang memang sangat mengandalkan visualisasi. Kalau saya bertanya "kata roman bagus tidak?" Dia akan menjawab nanti dilihat dulu struktur hurufnya. :')
Dan satu lagi hobinya fotografi dan desain grafis. meluruskan garis yang tidak bengkok di komputer, menyesuaikan warna foto agar lebih tajam, hal-hal yang mostly tidak akan diperhatikan oleh kebanyakan orang, sangat diperhatikan oleh Pak Suami.
Waktu dia sedang berada di dunia font dan warna, setiap hari saya diajak ngobrol tentang dua hal itu. Daaan, saya gak nyambung. Berkali-kali dia komplain karena saya kok gak paham-paham. Padahal ya saya udah berusaha yang terbaik untuk mendengarkan cerita tentang font dan warna yang bukan passion saya. Greget-gemes-sebel kalau dengerin tentang font itu. Karena ada orang dibayar berjuta-juta untuk bisa mendesain satu font yang khas, lalu perbedaan antarfont satu dan font lain itu tidak semuanya nampak kasat mata, dan ragam font itu buanyaaak sekali. Ada font lucu-lucu gaya cewek yang girly banget, ada font yang boyish, ada font yang mringkel-mringkel, ada font yang tegas dan berani, ada font yang unik, dsb. Saya jadi punya gambaran bahwa kita juga harus memperhatikan tentang font kalau sering menulis di komputer, karena ya tulisan tangan kita kan gak dipake. :D
Lately, lagi tertarik fotografi; belajar berbagai teknik foto, settingan untuk kamera di tempat yang gelap (low light) maupun di tempat yang terang, angle pengambilan foto yang menarik, dan beragam kamera dan lensa yang cocok digunakan untuk aktivitas yang berbeda-beda. Saya tenggelam dalam obrolan tentang kamera. Hahaha, awalnya sih masih bisa mengikuti, lama-lama saya hilang arah. Saya bingung saya ada di mana dan sedang membicarakan apa. Saya bukan gak suka fotografi, tapi kamera kan dipegang suami, dia yang senang eksplor, ya saya gak merasa perlu belajar fotografi.
Mungkin nanti, ketika tiba masanya saya bisa main sendiri tanpa ditemani suami, saya merasa perlu mengabadikan momen-momen tertentu, saya baru merasa butuh kamera sendiri. Kalau sekarang orang lebih sering bareng dan perhatian utama kami masih di anak bayi, ya saya pegang kamera hp saja sudah cukup. :)

Kembali ke visual. Jadi karena suami visual banget, kalau sedang mendengarkan ceramah atau cerita dia suka 'hilang'. Dia harus membayangkan yang diceritakan, sementara ketika dia membayangkan, fokusnya tidak bisa pada lanjutan cerita, melainkan pada imajinasinya; jadi dia miss beberapa kalimat atau kata yang diucapkan pembicara. Makanya kalau ada ceramah seringkali dia bawa handycam atau recorder sendiri, "biar bisa didengarkan lagi nanti." katanya. Saya sih diuntungkan juga, karena sejak punya anak ikut acara apa pun gak pernah bisa full perhatian ke acara, pasti lebih banyak gendong anak, nemenin anak main atau menenangkan anak yang cranky karena udah mulai bosan hahaha #momslife

Jadi ya dengan suami yang visual semuanya harus indah dipandang. Dia suka banget komentarin baju saya atau kombinasi baju dan kerudung, susunan rumah harus begini, begitu. kesimpulannya bekerja sama dengan anak visual cukup menyenangkan juga. :D

#IIP
#BundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajar
#Day2
#Visual
#Suami

Thursday, April 20, 2017

Game Level 4 #GayaBelajar #Day1

9:41 AM 0 Comments

Heihoo..
Well liburan berakhir. What?  Liburan macam apa ini? Lebih tepatnya bolosnya berakhir. Saya bolos kuliah Bunsay bulan lalu, bolos mengerjakan tugas. Sungguh saya penat. Anak sakit berhari-hari tidak cukup tidur, saya sendiri sakit tidak selera makan tetapi tetap harus makan untuk memenuhi kebutuhan anak lewat ASI, dan semakin lengkap ketika suami juga sakit. Duh, rasanya pengen menggandakan diri. T_____T
Lalu rindu naik gunung.
Oke cukup perkenalannya, haha. Untuk bulan ini tugasnya mengidentifikasi gaya belajar. Perkuliahan Bunsay ini sebenarnya menyenangkan karena terus ditantang untuk melakukan sesuatu. Masing-masing orang dan keluarga punya gambaran sendiri tentang kehidupan ideal yang ingin dicapainya, tapi kan secara umum ingin melakukan yang terbaik dalam hidup ini. Makanya bergerak maju bersama orang-orang yang mau maju itu menyenangkan. Setuju atau tidak, konten kuliahnya bikin saya pengen baca buku lebih banyak; sebagiannya lagi pengen crosscheck, "Apa iya ya kayak gini?"
Ampun, guru. Saya kira guru-guru di kelas IIP akan senang kok kalau ada mahasiswanya yang mau crosscheck, apalagi sampai mengoreksi. Saya sih masih baca dan manggut-manggut aja.

Hari pertama ini saya mau cerita tentang gaya belajar saya dulu--saya merasa perlu memastikan bahwa saya memahami diri sendiri sebelum berupaya memahami Anak Lanang. Kelas 1 SMA saya pernah dites mengenai gaya belajar ini. Tesnya mengisi kuesioner begitu, tes a la psikologi. Dan hasilnya dari skala 10 nilai saya Kinestetik 8, Visual 8, dan Auditorial 6 atau 7 (saya lupa pastinya). Yang jelas, nilai ketiganya tidak jauh beda.
Guru yang mengetes waktu itu mengatakan kalau saya tipe pembelajar kombinasi, keuntungan bagi saya adalah saya bisa belajar dengan cara apa pun. Maksudnya ketika di satu kelas materinya mendengarkan cerita, saya bisa menikmatinya; ketika materinya menceritakan gambar, saya pun bisa menikmatinya; lalu ketika harus story telling sendiri saya pun bisa menikmatinya (?). Tapi ini membentuk definisi saya tentang belajar; teman-teman SMA saya mengatakan saya gak pernah belajar. Soalnya saya gak pernah mengulang kembali pelajaran di sekolah; saya pilih main; atau rapat organisasi, atau wawancara (baca: nanya-nanya) kepala sekolah; atau nongkrong di warung ngobrolin harga sembako; atau nemenin pembina kos saya ngajar. Saya dulu penat sekolah, makanya sukanya main.

Nah, berkaitan dengan gaya belajar, karena tahu nilai kinestetik saya tinggi, saya coba lah menghafalkan tugas sambil keliling ruangan. Dan hasilnya nihil. Saya merasa gak nambah hafalan, yang ada pegel. Tapi saya ngomong dengan seluruh tubuh, tangan gak berhenti gerak, mencontohkan sesuatu dengan sepenuh hati (baca: menggerakkan seluruh tubuh), saya bermain peran--ini menjadi motivasi saya masuk teater; tapi ternyata saya gak cocok dengan kebiasaan para seniman teater yang seringkali nongkrong lama sambil ngopi dan ngerokok; lalu latihan teater, lalu lanjut lagi ngopi dan ngerokok. Saya gak betah nongkrong.
Turn out saya ini cocoknya menari instead of teater, tapi belum direalisasikan, masih jadi penonton.

Kedua visual, kalau ini kayaknya paling umum; karena ya semua orang belajar dari apa yang dilihatnya. Saya mencatat dalam bentuk mind map, kalau disuruh nulis semua dulu saya pakai pulpen warna-warni karena gak betah kalau hitam aja; atau kalaupun terpaksa hanya hitam, saya buat tebal tipis hurufnya. Tapi saya gak rapi, sama sekali tidak. Saya berantakan dan gak terlalu bermasalah dengan segala sesuatu yang berantakan. Saya berpikir kalau berantakan itu ada seninya tersendiri, seni menemukan barang dalam tumpukan kekacauan :p

Ketiga auditorial, ini yang dulu nilainya paling rendah, tapi saya kira saya memang pendengar yang cukup baik. Geer? Bukan, ini kan belajar memahami diri sendiri. Kepedean? Biarin. *ini becanda ya* saya menerima masukan dan saran kok.
Jaman SMA saya kalau belajar harus dengerin musik---saya mulai belajar waktu kelas 3 mau ujian; eh malah nilai ujian saya jelek. Kalau gak belajar mungkin nilainya lebih baik *kesimpulan macam apa ini?*
Well, tapi saya cukup bagus dalam mendengarkan, artinya saya bisa menikmati berimajinasi walaupun tanpa melihat gambar, saya senang mendengarkan cerita dan bisa memahaminya.

Jadi, saya kira gaya belajar ini penting diketahui orang tua, karena jadi tahu anak ini belajar dengan cara apa. Salah seorang dosen saya pernah cerita kalau anaknya ada dua yang satu anak auditorial yang satu lagi visual; kalau yang auditorial tiap hari pulang sekolah nangis, karena dimarahi guru lantaran tidak paham apa yang dijelaskan di sekolah. Mengetahui anaknya auditorial, ayahnya merangkum pelajaran anaknya dan membacakannya lalu merekamnya, dan didengarkan oleh anaknya. And it works. Perlahan tapi pasti anaknya mulai memahami apa yang sebenarnya dijelaskan oleh gurunya di sekolah.
Tetapi beda dengan saudaranya yang visual; mendengarkan rekaman yang dibuatkan oleh ayahnya, anak ini justru tertawa-tawa kegelian. Katanya, "gak bisa dengar apa-apa, habis geli telinganya." Hahaha, kiddos.
Seberapa penting mengetahui gaya belajar anak? Penting syekaleee
Besok mau cerita tentang gaya belajar suami ah sebelum mengamati Anak Lanang.

#IIP
#IstitiutIbuProfesional
#BundaSayang
#Bunsay
#GameLevel4
#Day1
#GayaBelajar

Wednesday, April 12, 2017

Maaf untuk segala hal yang tertunda

8:31 AM 0 Comments

Saya gagal menuliskan progres proyek keluarga kami. Pasalnya saya benar-benar sedang harus fokus mengurus anak Lanang yang sakit estafet hingga hari ini. Bahkan saya dan suami drop bergantian.

Awalnya membicarakan tentang family project me and my husband dan are so excited. We dreamt to do several project in our life. And suddenly Come little sonshine that obviously attract much of our attention. Our dreams are change. We did not dream about Two anyone, we dreams about three. 

Project kami bertema move. Dan akan kami mulai dengan bergerak melakukan Work out setiap hari dan memulai gaya hidup sehat. Walaupun sebenarnya healthy eating sudah mulai kami praktikkan sejak anak Lanang mulai MPASI. But we need to move, to excercise. Untuk jangka panjang, kami memang berencana melakukan perjalanan--bukan untuk mencari kitab suci tapi untuk belajar. Detailnya masih rahasia. Hahaha.

Tapi rencana tinggal rencana. Sampai hari ini saya baru mulai Work out beberapa kali. Karena anak Lanang sakit T_____T

Sejak 24 Maret demam naik turun diiringi pilek dan batuk, sempat sembuh beberapa hari lalu kembali demam yang mungkin dikarenakan tumbuh gigi dan malam ini kembali demam diiringi pilek dan sedikit batuk. Project saya beralih membujuk anak Lanang supaya mau makan. Huhu makannya susah sekali. *tear*

Doakan anak Lanang segera sembuh dan we Will go back on the track. 

#IIP
#aliranrasa
#familyproject
#bunsay
#bundasayang

Saturday, March 18, 2017

Tentang Mengapresiasi Kemandirian

8:24 AM 0 Comments

Weli, tiba juga masanya mengalirkan rasa. Rasanya melatih kemandirian anak bayi 9-10bulan? Waaaayyyyy to mah easier than train ourselves. Duh.

Their pure, tough, and soft hearted combine with the divine intelligence truly perfect. But for the adults like us, our separation from the Realitas truly made us not any good. We are too occupied with the secondary things that not baseline for our life.

Memang benar kata orang-orang bahwa anak menjadi guru kita. Semoga Tuhan membimbing jalan kami.

#aliranrasabunsay
#apresiasikemandirian
#IIP
#Kemandirian

Wednesday, March 8, 2017

Belajar Makan pakai Sendok

1:08 AM 0 Comments
Akhirnya setelah ditunggu-tunggu selama beberapa bulan, Anak Lanang sudah belajar memahami bahwa sendok itu alat untuk makan. Hari ini, untuk pertama kalinya Anak Lanang makan pakai sendok. Dengan bimbingan tangan Simbok tentunya, tapi dia mulai belajar menyendok kuah dan sop lalu mengarahkannya ke mulut. Walaupun kalau dibawa sendiri sih jadinya mandi kuah sop. :p 
Saya jadi ngerasa bersalah beranggapan Anak Lanang belum akan bisa makan pakai sendok sampai paling gak 1 tahun. T_____T  Beruntung karena Anak Lanang pilek (sakit kok malah beruntung?), saya jadi semangat bikinin sop--biasanya ogah-ogahan soalnya Bapaknya Anak Lanang gak suka sop. Nah, to eat soup require a spoon. Makanya saya pikir, "Sekalian lah belajar pakai sendok. Toh gak berhasil pun gapapa." Saya benar-benar meng-underestimate nih. Saya pikir Anak Lanang masih seperti 3 bulan lalu, sibuk ngemut dan gigitin sendoknya, instead of eating the food
But then congratulation to our baby boy.. Makannya masih mandi sop sih, tapi pasti ke depan akan semakin lancar menggunakan sendok. Nanti belajar pakai garpu juga berarti. Yeaaay.. Simboknya semangat. 
Ini ceritaku apa ceritamu? 

#IIP 
#InstitutIbuProfesional
#BundaSayang
#Bunsay
#ApresiasiKemandirian 
#Kemandirian 
#Day10 
#10dayschallenge 

#ChallengeDone

Tuesday, March 7, 2017

Simbok Galau

6:22 AM 0 Comments
Galau itu kalau anak lagi gak mau makan sendiri. Bukan, bukannya saya anti menyuapi. Saya juga suka menyuapi anak dan itu untuk memacu suasana makan yang menyenangkan. Misal dia mengarahkan makanan ke saya, terus saya makan makanannya. Nah, biasanya saya juga menyuapi makanan ke dia dan dia mau. Jadi main suap-suapan aja. Tapi yang bikin galau itu karena lagi main ke rumah orang tua, gak bawa kursi makan. Alhasil tiap makan duduk dipangku dan anak punya akses untuk "kabur" setiap habis menyuapkan makanan. Main-main dalam kondisi mulut penuh. Sesekali lupa dengan makanannya karena asyik main, nanti kalau ingat lagi baru balik ke pangkuan saya. Kalau dicegah malah teriak, melenting, atau menangis. Akhirnya saya bopong, lalu saya suapkan makanan ke mulutnya, sambil sesekali diajak jalan. Duh, pegel ya pinggang kalau nyuapin sambil gendong. Saya salut sama ibu-ibu yang bisa nyuapi sambil gendong sambil jalan-jalan atau berdiri dalam waktu paling tidak 30 menit. Saya gak sanggup. 
Dari awal alasan saya membiasakan anak duduk di kursi makan dan makan bersama karena saya gak bisa gendong sambil nyuapi. Saya sudah coba. Tapi karena saya gak bisa gendong pakai jarik--saya pakai SSC, terus gendongan sling pun udah di-packing rapi di kontainer--jadi ya gak mungkin gendong sambil nyuapi. Nah, kalau udah nginep 2 malam, waktu pulang anak saya jadi suka minta gendong kalau mau makan. Ketika didudukkan di kursi dia mengangkat tangan minta digendong. Hahaha, anak bayi bisa milih ya.. 
Tidak makan di kursi makan itu efeknya luar biasa. Karena tidak duduk di kursi artinya makan anak semakin sedikit [1]. Kalau disuapi sambil main, dia lebih fokus pada mainnya, makan pun waktunya molor sampai 40 menitan [2]. Waktu makan semakin panjang, artinya makanan kemungkinan semakin gak enak [3]. Makanan semakin gak enak, anak gak mau makan [4]. Anak gak mau makan, makanan dimakan Simboknya [5]. Simbok yang makan Simbok yang gonduuuud [6]. T_____T 
Jadi, karena masalah anak gak mau makan sendiri ini bukan karena anaknya--yah bukan karena tumbuh gigi, tidak enak badan, sakit, dsb--melainkan karena hilangnya kebiasaan makan sendiri di kursi makan, maka saya berusaha mengurangi porsi menginap itu. Main ke rumah kakek nenek seminggu satu atau dua kali, kalau bisa hanya satu kali jadwal makan, misal siang aja. Jadi biar anak kembali lagi terbiasa makan sendiri dulu. Karena akan ada masanya anak berontak dan gak mau duduk di kursi makan, akan ada masanya anak lari ketika disuruh makan, akan ada masanya anak makan lahap sesuai kemauannya sendiri. Tapi sekarang mumpung anak masih bisa 'manut' aja, ya dibiasakan dengan yang terbaik menurut orang tuanya saat ini. 
Semoga diberkahi dan diridhai. 

#IIP 
#InstitutIbuProfesional
#BundaSayang 
#Kemandirian
#ApresiasiKemandirian
#Day9 
#Onemoreday

#10dayschallenge

Monday, March 6, 2017

About Heart and Soul

10:40 AM 0 Comments
Hari ini saya terpana sejenak membaca salah satu quotes Jalaluddin Rumi, Sufi besar abad 13 yang mengingatkan hati saya. 
My dear heart, never think you are better than others. Listen to their sorrows with compassion. If you want peace, don't harbor bad thoughts, do not gossip and don't teach what you do not know. ~Rumi. 
Oh, love, ini tamparan bagi diri saya sendiri. Betapa hati ini seringkali dikotori dengan perasaan bangga atas sesuatu yang sebenarnya tidak kita miliki, merasa lebih besar daripada orang lain, padahal we are nothing, I'm nothing. Merasa bisa, sok bisa lalu sok mengajari orang lain. Bukan berarti kita tidak bisa mengajari, but sometime saya merasa saya perlu mengoreksi apa yang dilakukan orang lain. Silly me. 
Semoga Tuhan mengampuni saya. 
Rasanya saya sedang terjebak dalam tubuh perempuan usia seperempat abad, sementara hati saya ingin terbang dan bebas. Pikiran saya sedang berkelana ke mana-mana, and I can't help. Hanya beterbangan seperti burung terlepas dari sangkar, merasakan kebebaran pikiran menjelajah, but not with my body, not with my soul. 
Saya sedang membutuhkan sesuatu yang bisa membebaskan jiwa saya. Semoga saya segera menemukannya. 
_/|\_

#IIP 
#InstitutIbuProfesional 
#BundaSayang 
#Bunsay
#Kemandirian
#Apresiasi Kemandirian
#Challenge

#Day8

Every little thing counts

10:19 AM 0 Comments
Anak bayi memang pembelajar yang sangat cepat dan luar biasa. Sungguh, setiap harinya saya dibikin terkagum-kagum dengan perkembangannya. Seperti beberapa hari ini ia mulai membeo beberapa kata yang diucapkan orang-orang dewasa di sekitarnya, baik itu saya sendiri--simboknya, abahnya, kakek dan neneknya, tante dan omnya, atau orang lain. Misal kata jatuh, ia mengikuti dengan catho, aduh dengan atho, dada, baba, kalau menangis berteriak nda, yang kami asumsikan sebagai bunda, bisa menunjuk ke arah mana dia ingin menuju, memiliki barang-barang baru yang sangat menarik perhatiannya: currently kain pel, hahaha--anak baik mau bantu Simbok membereskan rumah. 
Sekarang sedang mau dititah beberapa langkah. Tapi suka-suka dia. Kadang lagi berdiri berpegangan pada kursi plastik, kursinya di dorong dia maju 3-4 langkah. habis itu merangkak lagi. Memang sedang fase-nya merangkak, makanya saya gak terlalu encourage untuk dia belajar jalan dengan dorong barang atau dititah, tapi dianya suka mau. Yang penting perbanyak aktivitas di lantai biar dia ekplore sepuasnya. 
Mainan favoritnya adalah di kulkas dan di rak buku. Dia suka 'memilih' makanan di kulkas dan 'memilih' buku yang entah kapan akan dibacanya :D Semua dikeluarkan, dijatuhkan, bahkan dilempar sambil teriak "catho!" as if semuanya jatuh. Dia excited sekali, jadi senang Simboknya juga. 

Mau tulis hal spesifik tentang perkembangan kemandiriannya sedang sangat bingung. Semoga selanjutnya ada ide. see you. 

#IIP 
#InstitutIbuProfesional 
#BundaSayang 
#Bunsay
#Kemandirian
#ApresiasiKemandirian
#Challenge

#Day7

Belajar makan dengan sendok

9:47 AM 0 Comments
Makan sendiri pakai sendok termasuk hal yang luput saya kenalkan. Sebenarnya ini karena emaknya malas masak makanan berkuah banyak semacam sop sih. Jadi anaknya makan pakai tangan aja, kan gak basah. Terus Anak Lanang demam dan pilek. Jadi mau gak mau emaknya bikinin sop untuk menunjang asupan cairannya, lagipula sop kan hangat di tenggorokan, biar cepat enakan badannya. 
Jadi, kan makan pakai sendok. sementara anaknya gak mau disuapi. Pegang sendok sendiri, sambil dipegangin juga sama Simbok. Daan, lancar ternyata makannya saudara-saudara. Ada tetes-tetes air ke baju Simbok, itu tak masalah. Simboknya sendiri amaze dengan kemampuan anak bayi 10 bulan makan sop pakai sendok. Walaupun kebanyakan dia hanya mampu menyendok kuah, karena isi sopnya berjatuhan kembali ke mangkok, tapi ya lumayan untuk anak yang baru pertama kali ini makan pakai sendok. Oh, my baby, so proud of you.. :* 

#IIP 
#InstitutIbuProfesional 
#BundaSayang 
#Bunsay
#Kemandirian
#Apresiasi kemandirian
#Challenge

#Day6 

Kembali Bekerja

9:45 AM 0 Comments
Sejak melahirkan saya cuti kerja. Cutinya sampai 6 bulanan. Soalnya sama suami diizinkan sih. Paling saya masih buat-buat tagihan dan mengurus bagian keuangan, tapi itu pun tak banyak. Kalau saya lagi pegang kerjaan Anak Lanang sama Pak Suami. Nah, beberapa minggu ini, saya putuskan kembali turun tangan dalam menjalankan bisnis. Karena kerjaan sedang banyak dan suami kewalahan, lalu saya pun mulai bisa gak ketiduran pas nyusuin nidurin anak. :D 
Jadilah saya kembali kerja. biasanya di jam anak tidur siang dan kalau malam setelah Anak Lanang lelap. biasanya setelah jam 8 sampai jam 11-an. 
Saya senang bisa mulai kerja lagi, karena ya semacam aktualisasi diri sih. Terus merasa jadi tahu perkembangan dunia. Karena saya kembali ke depan laptop, bisa  kerja, baca berita, dan lain-lain. 
Waktu tidur saya berkurang sedikit, tapi worth it sih. Jadi senang. :) 


#IIP 
#InstitutIbuProfesional 
#BundaSayang 
#Bunsay
#Kemandirian
#Apresiasikemandirian
#Challenge

#Day5

Jamur Krispi untuk Anak Lanang

9:34 AM 0 Comments
Makan sendiri bagi Anak Lanang sudah menjadi kebiasaan. Malah sampai sekarang kalau disuapi lebih sering gak maunya, karena mungkin jadi kurang menikmati. Kalau makan sendiri dia bisa menentukan makanan mana yang dimakan duluan, yang dimakan belakangan, yang tidak mau dia makan. Terakhir saya cobakan makan jamur krispi.
Sejak anak lanang 6 bulan, mulai MPASI, walaupun menurut buku resep boleh makan goreng-gorengan, saya belum kasih. Saya sih mikirnya saya aja yang udah gede suka gatel tenggorokan makan yang goreng-goreng gitu, apalagi anak bayi. Alhasil makanan rumy minim variasi, hanya di kukus dan rebus selama 1 bulan pertama makan, dan mulai panggang di bulan kedua. Baru makan goreng di usia 9,5bulan. Emaknya yang ngerasa berhasil memvariasikan menu kukus, rebus, dan panggang. :p 
Makan jamur krispi agak kesulitan, karena pada dasarnya jamur tiram kan agak alot, apalagi bagi bayi yang masih belajar makan. Tapi, untungnya Anak Lanang bisa mengatasinya. Awal-awal baru makan dimuntahin lagi, karena mungkin alot. Tapi selanjutnya berhasil dengan mulus. Malah sampai nambah 3 kali, dan sesi makan itu hanya makan jamurnya saja. Saya sediakan menu 4* lengkap seperti biasa, tapi yang lain gak laku. Sedang antusias dengan makanan baru mungkin ya. 

Note: untuk serial kemandirian ini saya tulis beberapa capaian kemandirian Anak dalam makanan, karena memang targetnya pada umur 1 tahun sudah makan table food dan makan sendiri. Jadi menu-menu tertentu yang sengaja tidak saya kenalkan terlebih dahulu--karena saya pikir gak bisa, ternyata mungkin kalau dari dulu ditawari bisa aja ya T______T. Pembelajaran buat emaknya. 

#IIP 
#InstitutIbuProfesional 
#BundaSayang 
#Bunsay
#Kemandirian
#Challenge

#Day2 

Put back things to where it belongs

8:38 AM 0 Comments
Saya dan suami sama-sama suka malas mengembalikan barang ke tempatnya. Akibatnya rumah kami berantakan, sangat. Nanti beres-beres seminggu sekali atau dua kali, tapi berantakan lagi. Jadi akan lebih sering rumah dalam keadaan berantakan daripada rapi. Ditambah lagi Anak Lanang mulai ingin mengambil semua barang, menjatuhkan, diambil lagi, dijatuhkan--sementara porsi yang diambil lagi jauh lebih sedikit daripada yang dijatuhkan. Udah bongkar-bongkar buku dari rak, ada 1 baris dijatuhkan semua dsb. Anak lanang makan sendiri, jadi sungguh menambah porsi berantakan yang sudah banyak. 

Untuk menanggulangi masalah itu, kami sepakat untuk mulai belajar mengembalikan barang kembali ke tempatnya semula. Untuk kebaikan kami sendiri dan Rumy. Agar kami tidak lagi sekadar menyembunyikan kekacauan, tetapi benar-benar merapikan. :D 
Jadi hari ini kami membereskan barang sendiri--tanpa bantuan orang lain, saling mengingatkan di mana kami meletakkan barang--untuk menghindari saling menyalahkan dan membongkar semua barang ketika membutuhkan sesuatu, dan berusaha untuk mengembalikan barang ke tempatnya semula. 
Doakan kami bisa konsisten. 

#IIP 
#InstitutIbuProfesional 
#BundaSayang 
#Bunsay
#Kemandirian
#Apresiasikemandirian
#Challenge

#Day4

Belanja bareng Anak Lanang

8:09 AM 0 Comments
Sejak menikah, saya jadi anak manja. Dulu kalau ditanya sama Mas Pacar (yang sekarang jadi Mas Suami), "Berani pulang sendiri?" karena merasa harga diri saya dicederai--lebai amat sih--saya pasti jawab, "Berani dong. Masa gak berani." Padahal itu udah lewat tengah malam--biasanya kalau habis ada acara/ kegiatan organisasi. Dan ya Mas Pacar sih percaya aja, jadi saya dibiarkannya pulang sendiri. Setelah menikah, saya merasakan nikmatnya jadi perempuan, ke mana-mana diantar suami. :D 
Jadilah semenjak punya anak, saya hampir gak pernah ke mana-mana kalau gak diantar suami, atau diantar orang lain (Bapak/Ibu/Adik) alasannya, bahaya kalau naik motor sama bayi berdua aja. Tapi lama-lama saya ngerasa kurang produktif. 
  1. Harus tunggu waktu suami senggang untuk antar saya. 
  2. Belanja sehari-hari harus 2 orang, padahal bisa dilakukan 1 orang.
  3. Saya gak bisa main sama temen-temen, karena harus nungguin suami antar, padahal suami gak selalu bisa antar. akibatnya saya jadi tunggu rumah aja. padahal saya pun bosan.
  4. Jadi jarang main.
  5. Jadi suka ngomel
  6. Jadi males ngapa-ngapain akibat kurang refresh.

Akhirnya saya belajar pergi sendiri. Dengan mempertimbangkan keamanan dan keselamatan bayi sebagai yang nomor satu, saya mengawali dengan pergi ke tukang sayur yang jaraknya sekitar 1 km. Lalu dilanjutkan ke rumah orang tua saya, 15 menit naik motor. Dan akhirnya saya bisa sendiri. Bahkan sekarang kalau mau ke pasar berdua Anak Lanang pun saya sudah pede. 
Ya walaupun kecepatan saya turunkan jauh. Kalau saya bawa motor sendiri, saya suka ngebut, karena itu  relieving dan sangat menyenangkan. Tapi sama anak bayi jadi 30 km/ jam, maksimal. Gak berani dan gak mau terlalu cepat. Karena kalau Anak Lanang bangun, sesekali saya sapa. Jadi harus super hati-hati dan waspada. :D 
Tapi ini pengalaman berharga buat saya. ke depannya saya pasti bisa ke mana-mana berdua Anak Lanang. bisa main dan jalan-jalan walau Pak Suami lagi sibuk. 

#IIP  
#InstitutIbuProfesional 
#BundaSayang 
#Bunsay
#Kemandirian
#Challenge
#Day3 


Monday, February 27, 2017

Mi Goreng Pertama

7:35 AM 0 Comments
Anak bayi melewati perkembangan yang luar biasa. Hari ini untuk pertama kalinya saya berani kasih Anak Lanang mi goreng. Tanpa gula dan garam tentunya. Menu kali ini saya samakan dengan menu simbok dan abahnya. Mi gorengnya dipadukan dengan kol, wortel, tomat dan cabe--punya Anak Lanang tanpa cabe. Daaan, ternyata Anak Lanang berhasil makan mie dengan lahapnya. Tanpa tersedak #yeaaay..

Teringat orang tua saya, kalau anak kecil mau makan mi sendiri, dipotong-potong sampai gak berbentuk mi. Padahal kenikmatan mi itu kan ada pada panjangnya itu, kalau gak panjang namanya apa dong? Hahaha.. Saya sengaja memberikan berbagai macam tekstur, bentuk, jenis makanan pada si Anak Lanang agar dia terbiasa kalau nanti diajak ngalam bisa makan berbagai macam makanan tanpa pilih-pilih. Itu sih harapan Simbok. Kalau nyatanya dia mau jadi anak yang pemilih dalam hal makan ya Simbok nerimo, tapi latihan makan berbagai macam makanan dulu ya sekarang mumpung belum menentukan sendiri #hihi

Sejak umur 6 bulan Anak Lanang sudah latihan makan sendiri. Bukan saya yang mau dia makan sendiri, tapi memang saya mengikuti kemauan dia untuk makan sendiri. Awal MPASI saya tawarkan semua jenis dan tekstur makanan, mulai dari bubur, nasi tim, sampai finger food. Anak Lanang milihnya finger food, kalau dikasih bubur, tangannya maunya pegang makanan habis itu kibas-kibas--mungkin risih karena buburnya lengket. Jadi habis itu simbok berinovasi di dapur--turun ke dapurnya baru setelah punya anak -____-

Karena memilih makan sendiri--dan saya anggap itu mengikuti kemauan bayi (baby led)--maka saya menuruti kemauannya. Saya kenalkan berbagai macam sayuran, protein: hewani dan nabati; karbohidrat, lemak tambahan, dan lain-lain. Pada akhirnya saya sendiri ternyata yang mendapat keuntungan: ketika anak makan Simbok gak disibukkan dengan menyuapi, tapi sibuk makan sendiri. Ternyata anak bayi makan sendiri gak semengerikan itu :)

Monday, February 20, 2017

Reminder for Life

10:44 PM 0 Comments
It is difficult to bear the sight of all the injustices of this world. But this earthly world will disappear anyway, and the most important thing is always spiritual life; if we cannot change the world around us, we can at least change ourselves. The essential teaching of every true religion is that this world of vanishing phenomena is unreal like a dream and that the unseen world of the Great Spirit is real. There are many degrees in the Unseen, but I just want to point out that there is more reality in the Unseen above than on this visible earth, and that God alone is absolute Reality.

~Frithjof Schuon
Sun Feather

Friday, February 17, 2017

Excuse

3:00 AM 0 Comments
Well saya pada akhirnya menulis juga. Saya member IIP yang membandel di tugas pertama ini. Saya tidak mengerjakan satu pun challenge 10 hari komunikasi produktif yang ditugaskan oleh para Fasilitator IIP. #badstudent.
Kalau ditanya apa alasannya? Saya punya daftar panjang alasan yang bisa disebutkan. Tapi masa iya mau disebutkan semuanya. hahaha saya pilih tiga alasan aja yah
Alasan pertama sih karena saya baru beradaptasi dengan HP baru. (Pamer HP baru, Mba? :p) Enggak kok, HP lama saya Bl*ckb**ry dengan OS BB10 tidak lagi di-support oleh Whatsapp, Iya aplikasi utama yang digunakan dalam perkuliahan IIP. Jadi mau gak mau saya ganti HP. Ganti HP-nya pun last minute banget, mungkin sekitar 1 minggu sebelum kelas dimulai. Karena ya tabungan belum penuh, belum boleh dipecah. Terus drama karena biasa pakai HP dengan keypad, berganti hp touchscreen sepenuhnya; gak bisa ngetik boooo’. Terus masih gaptek peralihan fitur dari BB10 ke Android.
Lalu Bapak saya sakit T____T, komplikasi pula DBD dan Hepatitis A. Saya jadi bolak-balik rumah Bapak dan rumah saya, ketika Bapak rawat inap di RS pun menginap di rumah Bapak untuk menyiapkan kebutuhan Bapak dan Ibu yang menemani di RS. Pikiran saya teralihkan semuanya dari dunia peronline-an. jaraaang sekali sentuh HP. Mana saya tetap harus bolak-balik untuk memenuhi kebutuhan suami yang ditinggal di rumah sendirian.
Terakhir pekerjaan. Saya dan suami memang kerja sendiri di rumah dengan bantuan beberapa orang tim yang sebagian online serta ada pula tim offline yang tiap hari kami temui. Masalah utamanya, editor kami memutuskan resign. Dulu sebelum saya melahirkan, saya pun editor utama di usaha kami. Tapi sejak melahirkan, baby boy comes first, everything else come second. Jadi saya bekerja hanya 2 jam maksimal dalam sehari. Itu pun kalau gak ketiduran pas menyusui di malam hari :D
Sejak deadline bertumpuk, editor hanya satu yaitu Pak Suami, saya mau gak mau harus turun tangan. Karena ya profesionalitas kami dipertaruhkan. Ya saya mulai BEGADANG lagi untuk kembali bekerja. Kenapa begadang? karena ya the only time I can do my job is while my baby boy sleep. And he could sleep longer only at night. Kalau siang, paling kan 1-1,5 jam. Sementara saya juga perlu menyiapkan makanan saya dan suami, makanan baby boy, beres-beres rumah dsb.
Udah sih, itu aja alasan utamanya. Saya jadi gak fokus mau belajar. jangankan belajar, saya bisa mandi dan makan aja udah syukur. Karena memang beberapa minggu ini minggu terberat bagi saya. Belum adaptasi dengan pembagian waktu, pembagian tugas, pembagian tenaga, koordinasi dengan suami, belum lagi istirahat yang sangat terganggu. Saya masih berdoa supaya ini tidak berefek pada kesehatan emosi saya.

Ini saya udah sangat butuh recharge. Satu hari day off dari tugas-tugas yang membelenggu tampaknya akan jadi kemewahan bagi saya.
 
#IIP #InstitutIbuProfesional #BundaSayang #KomunikasiProduktif