Oleh: Fathimah Albatul
To Kill a Mockingbird membawa Harper Lee memenangkan Pulitzer Prize dan menjadi salah satu literatur Amerika klasik modern. Diterbitkan tahun 1960 dan kemudian diangkat ke layar lebar di tahun 1962. Saya sendiri belum menonton filmnya. Perlu mempersiapkan mental untuk menonton film lama. Beradaptasi dengan pola penyutradaraan dan gaya cerita (yang biasanya) lebih lambat dibandingkan film-film zaman now. Ditambah lagi belum berwarna. Eh, filmnya pun belum punya. :D
Ini adalah salah satu di antara sedikit sekali novel yang saya baca lebih dari satu kali. Biasanya saya malas untuk baca ulang sebuah novel karena berpikir lebih baik membaca yang lain yang belum dibaca. Biasanya buku ada banyak, tapi gak dibaca-baca.
Pertama kali saya membaca novel ini waktu saya masih SMA. Pinjam milik sahabat saya.. Dan I'm truly moving by this novel. Waktu itu perhatian utama saya pada Atticus Finch, ayah dari tokoh utama--Scout. Betapa Atticus berani mengambil risiko mempertaruhkan namanya dengan membela seorang buruh kapas berkulit hitam. Membela kemanusiaan dan kesetaraan yang selama ini dijunjungnya, prinsip hidupnya. Tetapi kali kedua membaca di usia berbeda, dengan kesadaran berbeda, kondisi berbeda--sekarang sudah beranak satu--gaya hidup dan cara pandang berbeda, membuat saya memiliki sudut pandang yang berbeda pula terhadap novel ini.
Dulu sepertinya saya menginginkan masa kecil seperti Scout Finch dan Jeremy Finch yang bebas berkeliaran sepanjang hari, bermain dari satu rumah tetangga ke rumah tetangga lain, memiliki petualangan-petualangan seru yang menyenangkan. Tapi kali ini saya merasa, "Ini petualangan anak-anak banget ya.." OMG, I feel so old. >.<
Pelajaran yang berhasil saya petik dari novel ini setelah berhasil membaca kedua kalinya adalah bahwa kebenaran itu bergradasi dan orang akan mempersepsi kebenaran sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing.
Ada satu bagian dari novel ini yang menurut saya menceritakan tentang gradasi kebenaran. Pertama adalah Scout menceritakan kepada Atticus bahwa para penduduk Maycomb County lainnya memandang apa yang dilakukan oleh Atticus itu salah, membela orang kulit hitam. Jawaban Atticus adalah, "Bisa saja mereka benar dengan pendapatnya itu. Tetapi aku memegang kebenaran yang aku yakini. Bahwa dengan membela Tom Robbinson, aku sedang membela kemanusiaan."
Hanya Tuhan satu-satunya kebenaran mutlak, dan karenanya segala sesuatu yang bahkan ketika hal tersebut disandarkan pada Tuhan pun merupakan kebenaran relatif. (Ini sih nanti bakal ngomongin agama ya kalau begini, haha). Makanya dalam satu agama sekalipun akan ada perbedaan pendapat terkait penentuan praktik hukum, sementara prinsipnya bisa jadi tetap sama. Belum lagi kalau gradasi kebenaran dalam agama yang berbeda. Karenanya bagi saya, “yakini dan jalani yang kita yakini sepenuh hati.” Ini tentunya setelah melewati proses pencarian ya..
Penekanan pada moralitas manusia yang tidak ditentukan oleh tindakan kebanyakan orang, melainkan oleh kata hati; merupakan pelajaran lain yang berhasil saya petik. Seringkali kita mengikuti tatanan yang salah di masyarakat. Misalnya saja dalam pengasuhan bayi baru lahir di mana orang tua mengajurkan dan melaran A-Z. Tetapi ketika hal tersebut ditelaah oleh para ahli; baik itu ahli kedokteran anak ataupun ahli psikologi, hal tersebut tidak tepat.
Atticus Finch mendobrak tatanan moral masyarakat Amerika di tahun 1930-an. Ketika orang-orang kulit putih selalu berkedudukan lebih tingi dibandingkan orang-orang kulit hitam. Bagi mereka saat itu, hal tersebut adalah lumrah, dan begitulah seharusnya. Namun tidak bagi Atticus Finch. Orang kulit putih dan kulit hitam tetap sama di mata hukum. Menggunakan norma yang berlaku saat itu, artinya hukum selalu bisa berat sebelah. Ketika orang kulit putih berkonflik dengan orang kulit hitam, maka orang kulit hitam selalu salah. Bagaimana pun kondisinya, bagaimana pun kebenarannya, sekuat apa pun buktinya. Dan hal itu terjadi pula pada klien Atticus yang ditunjuk oleh Hakim Wilayah, kekalahan di hadapan para juri yang semuanya adalah kulit putih. Tetapi Atticus menunjukkan bahwa siapa pun itu, berhak mendapatkan pembelaan di mata hukum.
Satu hal lagi adalah bahwa kita tidak punya hak untuk menilai orang lain berdasarkan apa yang kita lihat. Mrs. Dubose adalah seorang perempuan tua yang seringkali berteriak dan mencaci maki Scout dan Jem terkait dengan pembelaan ayah mereka terhadap orang kulit hitam. Akan tetapi, di akhir hayat Mrs. Dubose, Jem Finch terikat dengan kewajiban untuk membacakan buku untuknya. Mrs. Dubose berupaya melepaskan diri dari jerat candu morfin yang selama ini merantainya. Nenek tua pemarah itu memenangkan pertarungan melawan musuh terbesarnya.
Novel ini berisi pelajaran moral yang sangat kompleks tapi dikemas dari sudut pandang seorang anak 8 tahun. Harper Lee berhasil menggambarkan bagaimana kompleksitas pemikiran seorang anak 8 tahun dalam memandang permasalahan orang dewasa di sekitarnya. Pelajaran moral yang terkandung di dalamnya memang tak lekang oleh waktu. Tak heran bila dimasukkan dalam daftar living books dan buku-buku layak baca. ♥

No comments:
Post a Comment