Follow Us @avonturnetwork

Thursday, April 20, 2017

Game Level 4 #GayaBelajar #Day1

Heihoo..
Well liburan berakhir. What?  Liburan macam apa ini? Lebih tepatnya bolosnya berakhir. Saya bolos kuliah Bunsay bulan lalu, bolos mengerjakan tugas. Sungguh saya penat. Anak sakit berhari-hari tidak cukup tidur, saya sendiri sakit tidak selera makan tetapi tetap harus makan untuk memenuhi kebutuhan anak lewat ASI, dan semakin lengkap ketika suami juga sakit. Duh, rasanya pengen menggandakan diri. T_____T
Lalu rindu naik gunung.
Oke cukup perkenalannya, haha. Untuk bulan ini tugasnya mengidentifikasi gaya belajar. Perkuliahan Bunsay ini sebenarnya menyenangkan karena terus ditantang untuk melakukan sesuatu. Masing-masing orang dan keluarga punya gambaran sendiri tentang kehidupan ideal yang ingin dicapainya, tapi kan secara umum ingin melakukan yang terbaik dalam hidup ini. Makanya bergerak maju bersama orang-orang yang mau maju itu menyenangkan. Setuju atau tidak, konten kuliahnya bikin saya pengen baca buku lebih banyak; sebagiannya lagi pengen crosscheck, "Apa iya ya kayak gini?"
Ampun, guru. Saya kira guru-guru di kelas IIP akan senang kok kalau ada mahasiswanya yang mau crosscheck, apalagi sampai mengoreksi. Saya sih masih baca dan manggut-manggut aja.

Hari pertama ini saya mau cerita tentang gaya belajar saya dulu--saya merasa perlu memastikan bahwa saya memahami diri sendiri sebelum berupaya memahami Anak Lanang. Kelas 1 SMA saya pernah dites mengenai gaya belajar ini. Tesnya mengisi kuesioner begitu, tes a la psikologi. Dan hasilnya dari skala 10 nilai saya Kinestetik 8, Visual 8, dan Auditorial 6 atau 7 (saya lupa pastinya). Yang jelas, nilai ketiganya tidak jauh beda.
Guru yang mengetes waktu itu mengatakan kalau saya tipe pembelajar kombinasi, keuntungan bagi saya adalah saya bisa belajar dengan cara apa pun. Maksudnya ketika di satu kelas materinya mendengarkan cerita, saya bisa menikmatinya; ketika materinya menceritakan gambar, saya pun bisa menikmatinya; lalu ketika harus story telling sendiri saya pun bisa menikmatinya (?). Tapi ini membentuk definisi saya tentang belajar; teman-teman SMA saya mengatakan saya gak pernah belajar. Soalnya saya gak pernah mengulang kembali pelajaran di sekolah; saya pilih main; atau rapat organisasi, atau wawancara (baca: nanya-nanya) kepala sekolah; atau nongkrong di warung ngobrolin harga sembako; atau nemenin pembina kos saya ngajar. Saya dulu penat sekolah, makanya sukanya main.

Nah, berkaitan dengan gaya belajar, karena tahu nilai kinestetik saya tinggi, saya coba lah menghafalkan tugas sambil keliling ruangan. Dan hasilnya nihil. Saya merasa gak nambah hafalan, yang ada pegel. Tapi saya ngomong dengan seluruh tubuh, tangan gak berhenti gerak, mencontohkan sesuatu dengan sepenuh hati (baca: menggerakkan seluruh tubuh), saya bermain peran--ini menjadi motivasi saya masuk teater; tapi ternyata saya gak cocok dengan kebiasaan para seniman teater yang seringkali nongkrong lama sambil ngopi dan ngerokok; lalu latihan teater, lalu lanjut lagi ngopi dan ngerokok. Saya gak betah nongkrong.
Turn out saya ini cocoknya menari instead of teater, tapi belum direalisasikan, masih jadi penonton.

Kedua visual, kalau ini kayaknya paling umum; karena ya semua orang belajar dari apa yang dilihatnya. Saya mencatat dalam bentuk mind map, kalau disuruh nulis semua dulu saya pakai pulpen warna-warni karena gak betah kalau hitam aja; atau kalaupun terpaksa hanya hitam, saya buat tebal tipis hurufnya. Tapi saya gak rapi, sama sekali tidak. Saya berantakan dan gak terlalu bermasalah dengan segala sesuatu yang berantakan. Saya berpikir kalau berantakan itu ada seninya tersendiri, seni menemukan barang dalam tumpukan kekacauan :p

Ketiga auditorial, ini yang dulu nilainya paling rendah, tapi saya kira saya memang pendengar yang cukup baik. Geer? Bukan, ini kan belajar memahami diri sendiri. Kepedean? Biarin. *ini becanda ya* saya menerima masukan dan saran kok.
Jaman SMA saya kalau belajar harus dengerin musik---saya mulai belajar waktu kelas 3 mau ujian; eh malah nilai ujian saya jelek. Kalau gak belajar mungkin nilainya lebih baik *kesimpulan macam apa ini?*
Well, tapi saya cukup bagus dalam mendengarkan, artinya saya bisa menikmati berimajinasi walaupun tanpa melihat gambar, saya senang mendengarkan cerita dan bisa memahaminya.

Jadi, saya kira gaya belajar ini penting diketahui orang tua, karena jadi tahu anak ini belajar dengan cara apa. Salah seorang dosen saya pernah cerita kalau anaknya ada dua yang satu anak auditorial yang satu lagi visual; kalau yang auditorial tiap hari pulang sekolah nangis, karena dimarahi guru lantaran tidak paham apa yang dijelaskan di sekolah. Mengetahui anaknya auditorial, ayahnya merangkum pelajaran anaknya dan membacakannya lalu merekamnya, dan didengarkan oleh anaknya. And it works. Perlahan tapi pasti anaknya mulai memahami apa yang sebenarnya dijelaskan oleh gurunya di sekolah.
Tetapi beda dengan saudaranya yang visual; mendengarkan rekaman yang dibuatkan oleh ayahnya, anak ini justru tertawa-tawa kegelian. Katanya, "gak bisa dengar apa-apa, habis geli telinganya." Hahaha, kiddos.
Seberapa penting mengetahui gaya belajar anak? Penting syekaleee
Besok mau cerita tentang gaya belajar suami ah sebelum mengamati Anak Lanang.

#IIP
#IstitiutIbuProfesional
#BundaSayang
#Bunsay
#GameLevel4
#Day1
#GayaBelajar

No comments:

Post a Comment