Follow Us @avonturnetwork

Monday, December 4, 2017

Kasta dan Ilmu

Banyak orang, termasuk saya, seringkali berpikir tentang keadilan bagi kemanusiaan adalah dengan memeperlakukan semua manusia setara, pada posisi yang sama. Ada forma ada substansi, ketika membicarakan perbedaan, biasanya hal tersebut ada di level forma, bentuk. Segala sesuatu yang berbentuk memiliki perbedaan, tidak bisa kita katakan sama. Saya ingat tentang sistem kasta dalam agama Hindu. 

Sejak ribuan tahun lalu agama Hindu sudah menerapkan sistem kasta. Kasta ini ada empat: Brahmana, Ksatria, Vaisya dan Sudra. Saya dari dulu beranggapan  ada kasta tertinggi dan ada kasta terendah, konsekuensinya, kasta terendah harus mematuhi apa-apa yang diperintahkan kasta tertinggi. Yang terendah ini kasta Sudra, kastanya para budak. Begitu orang menyebut. Menyiratkan bahwa orang-orang yang masuk di kasta itu adalah orang-orang yang rendah dalam level sosial. Dan hal ini memang terjadi di India. Gandhi menyebutnya penyimpangan. 

Mahatma Gandhi adalah seorang penggerak kemerdekaan India dengan membawa prinsip ajaran Hindu ahimsa (nonviolence--tanpa kekerasan), dalam perjuangannya Gandhi menyerukan kepada para pengikutnya untuk tidak membalas perlakuan kasar seperti apa pun. Termasuk jika perlakuan tersebut menyakiti mereka (pengikutnya). Karena ketika kita membalas, kita tak ada bedanya dengan mereka yang melakukan kekerasan. 

Kembali ke sistem kasta. Gandhi mengkritik penyebutan kasta, karena kata kasta sendiri bukan dari bahasa Sansekerta, melainkan Portugis, dan tentunya kata kasta tidak terdapat dalam kitab suci agama Hindu. Dalam kitab Bhagavad Gita, disebut dengan Varna, ada Varna Brahmana, Ksatria, Vaisya dan Sudra. Brahmana adalah para wakil Tuhan untuk membimbing manusia menuju Dia, terdiri dari para nabi, wali, ulama, kyai dan sebagainya. Orang-orang yang sepenuh hati menghidupkan ajaran Tuhan di muka bumi dan dengan welas asih membimbing manusia untuk kembali ke jalan yang benar. Kedua adalah Ksatria, adalah para pelindung. Yakni orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk melindungi orang lain, berjuang untuk orang lain, atau membela negara, membela tanah kelahirannya dsb. Kalau zaman sekarang orang-orang yang tergabung dalam kepolisian, tentara, mungkin juga satpam dan hansip. Ketiga Vaisya adalah para pedagang, mereka menjual sesuatu untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Termasuk juga petani yang menghasilkan bahan pokok makanan bagi manusia. Sekarang perdagangan banyak sekali bentuknya, termasuk berdagang jasa, berdagang barang-barang elektronik, pakaian, dsb. Tidak melulu toko kelontong, hahaha. Terakhir adalah Varna Sudra. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keahlian di bidang teknis dan spesifik. Misal ahli komputer, ahli internet, ahli memasak, ahli membuat kerupuk, ahli memasang atap, ahli membuat lemari, dsb.  

Kalau membaca definisi kasta semacam ini, adanya sistem kasta itu seperti keniscayaan. Artinya setiap manusia lahir dengan perbedaan dan kecenderungan terhadap sesuatu. Seperti baca tes bakat, saya ini seorang arranger, commander, server, atau yang lainnya. Bahwa seseorang terlahir dengan peran tertentu yang akan dia lakukan dengan senang dan sepenuh hati. 

Menurut Gandhi Varna ini bersifat horizontal, bukan vertikal. Maka ketika masyarkat modern menempatkan satu kasta lebih tinggi dibandingkan kasta yang lain, Gandhi mulai menyerukan kritiknya. Menurutnya sistem kasta yang berlaku dalam masyarakat modern sudah tidak ada kaitannya dengan agama lagi.  Gandhi meyakini varna yang berbasiskan pada pekerjaan turun temurun, varna adalah empat tanda pekerjaan alam semesta, menyampaikan ilmu pengetahuan, membela yang lemah, berdagang dan bertani, dan memberikan pelayanan kepada orang lain dengan memberikan kemampuan fisiknya. 

Seiring dengan peralihan penyebutan varna menjadi kasta, manusia modern pun kehilangan makna sebenarnya. Kasta tidak lagi bersifat horizontal, melainkan vertikal. Maka masih menurut Gandhi, tatanan sosial masyarakat berubah, hanya ada satu kasta yang eksis, yakni kasta Sudra. Semua orang dituntut untuk memiliki keahlian spesifik dalam bidang tertentu untuk dapat bekerja di dunia modern. Ada kemudian profesi ahli mesin traktor, ahli mesin-mesin besar di pabrik, ada pula ahli kimia lingkungan, kimia pangan, atau kimia industri, biologi kelautan, biologi kelautan spesifikasi crustacea, dsb. Jauh lebih spesifik dibandingkan dengan kelasifikasi ilmu zaman dahulu. 

Kita sebut saja Ibnu Sina dikenal sebagai seorang filsuf di abad 11 M. Selain seorang filsuf Ibnu Sina juga menulis tentang kedokteran (Qanun fit-thib-- The Canon of Medicine) yang digunakan sebagai text book kedokteran di abad 18, juga seorang saintis yang menulis buku-buku di berbagai bidang mulai dari fisika, astronomi, kimia, geografi, geologi, psikologi, matematika, dsb. Belum lagi beliau juga seorang ulama Islam, yang menulis tentang teologi (ketuhanan). 

Atau Alfarabi juga dikenal sebagai salah seorang filsuf muslim di abad 10, menulis berbagai kitab di bidang Metafisika, logika, musik, filsafat politik, sains, etika, dsb. Al Kindi, yang hidup di abad 9, juga seorang ilmuwan matematika, fisika, kimia, psikologi, farmakologi, kesehatan, metafisika, kosmologi, astrologi, teori musik, ilmu kalam (teologi Islam). Atau kita kembalikan ke zaman Yunani, Aristoteles yang hidup sekitar 300 tahun SM. Adalah seorang filsuf yang pemikiran menginspirasi banyak sekali filsuf muslim, juga seorang ahli biologi, ahli zoologi, fisika, metafisika, logika, juga politik dan pemerintahan. 


Ini menyadarkan saya bahwa kemampuan manusia untuk belajar dan mengkaji ilmu sebenarnya tidak memiliki batasan. Kecintaan akan ilmu membimbing manusia untuk terus mencari dan berupaya memahami berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Ingat ayat al-Quran pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad? Iqra'. Bacalah. Bagi saya upaya berbagai ilmuwan baik Islam, Yunani, Barat, adalah upaya nyata membaca; Membaca Alam Raya dan meraih ilmu-Nya. 

No comments:

Post a Comment